Rabu, 29 April 2020

Perjalanan adalah sebuah Pelajaran (Part 2)


4 Kota 2 Negara
Kamboja (Phnom pen + Sieam Reap)Thailand (Bangkok + Phuket)


1 Oktober
Turun dari Bus kami langsung menuju perempatan jalan Khaosan Road buat beli SIM Card di 7 eleven,  Karna butuh koneksi internet untuk mencari posisi hotel yg sudah kami booking, SIM Card. 300 baht 8 Day Pass. 

Kita diminta menyerahkan foto copy paspor, dan juga kami di foto oleh pelayan 7 eleven, Negara orang sudah sampai sebegitu ketatnya yah..?


Klo di Indonesia baru di suruh ngisi No. NIK sama No. Kartu Kleuarga aja rusuh…
Inilah, itu lah…. …  kita ini memang terlampau mudah buat di komporin sama jargon2 politik.

Makan malam cukup beli mie aja, karna udah males, pengen buru2 rebahan di Hotel, hotel yg kami booking adalah Sloth Hostel Khaosan Rp. 282.000,- include sarapan pagi,  bikin sendiri kopi/susu/teh + roti tawar. 

2 Oktober
Sarapan pagi gratis, isi botol air minum, trik hemat travelling Ala Backpacker, Karna nanti sore gw akan melanjutkan penerbangan menuju Phuket.  Pagi ini gw langsung Check-Out dari Hotel, sedikit repot sih keliling Bangkok dengan membawa banyak tas.

Tempat yg mo gw kunjungin di Bangkok ini Wat Pho, Wat Arun, Madam Tussaud, Wat Chana Songkram, Grand Palace, tapi akhirnya banyak yg di Cancel, karena terbatasnya waktu,  akhirnya Cuma Wat Pho dan Wat Arun saja.

Dari hotel gw jalan kaki 8 menitan menuju Phra Arthit Express Boat Pier, sampai lokasi lalu tanya petugas dermaga bagaimana cara menuju Wat Arun, dan petugas dermaga menyuruh kami untuk menunggu. Di sini kita tidak usah membeli tiket boat, jadi nanti dibayar langsung di atas boat 15 Baht.



Sungai Chao Praya yg besar di kota Bangkok ini dimanfaatkan oleh pemerintahnya sebagai alat trasportasi, ada banyak sekali lalu lalang kapal yg mengangkut penumpang.



Perjalanan menuju Wat Arun tidak terlalu lama, entah berapa kali berhenti di beberapa dermaga, kadang di dermaga sebalah kiri sungai dan kadang di dermaga sebelah kanan sungai, lama perhentian di setiap dermaga tidak lama mungkin hanya 1 menitan, jadi bagi para penumpang yg akan turun harus sudah siap2 menuju bagian belakang boat.

Tiket masuk Wat Arun 50 Baht, syangnya saat gw datang sebagian bangunan Wat Arun sedang ada renovasi, jadi agak sedikit kurang bagus buat diambil gambarnya.

Menurut Wikipedia Wat Arun :
Wat Arun (bahasa ThaiวัดอรุณCandi Fajar) adalah candi Buddha (wat) yang terletak di distrik Bangkok Yai di BangkokThailand, tepatnya di barat hulu sungai Chao Phraya. Nama panjang dari candi ini adalah Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara (วัดอรุณราชวรารามราชวรมหาวิหาร). Wat Arun Rajwararam atau Candi Fajar, diambil dari nama Dewa Fajar, Aruna. Wat Arun dianggap salah satu situs yang paling terkenal di Thailand.




Ketika di dalam kompleks Wat Arun ini, gw bertemu dengan rombongan turis dari Indonesia, cukup banyak sekali mungkin sekitar 50 an Orang, umumnya di dominasi oleh ibu-ibu, dan sepertinya memakai jasa Tour dari Indonesia itu bisa dilihat dari tour Guide nya yg berbahasa Indonesia.
Kalo jadi Tour Guide tapi tournya ala Backpacker kira2 bisa gak yah..?
Banyak peminatnya gak yah?
Otak Bisnis ku jalan… wakakakak.

Berwisata dengan Agen tour memang enak, kita tinggal jalan gak usah mikir, tanya ini Tanya itu, bangun tidur sarapan sudah disiapkan, kesana kemari di anterin pake mobil travel.  

Buat sebagian orang,  It’s OK, tapi buat gw pribadi kurang ada seninya.
Travelling ala backpacker adalah mencoba keluar dari Zona aman, kita akan sangat merasakan artinya sebuah perjalanan.

Bagaimana melatih otak kita untuk memanagement perjalanan kita, melihat kehidupan social masyarakat, berbaur dengan kebudayaan dan karakter warga local, dan yg terpenting berusaha untuk memecahkan berbagai masalah ketika kita mendapatkan masalah selama di perjalanan yg tidak sesuai dengan itinerary kita.


Puas menjelajahi Wat Arun lalu jalan kaki menuju dermaga Kapal Ferry untuk menyebrangi sungai menuju Thien tien Pier beli tiket di loket tariffnya 2 Baht, dari Thien tien Pier ini jalan kaki lagi menuju Wat Pho. 



Nyebrang jalan besar serasa kayak di sirkuit Moto GP, motor ber CC besar yg biasa dipake balapan di Moto GP, lagi di gerung gerungin suaranya berisik, ternyata lagi ada shooting entah untuk apa? Sepertinya untuk iklan.

Masuk Wat Pho beli tiket di loket, anjrit harga tiketnya 2 x lipat, sekarang 200 Baht dan mulai berlaku sejak seminggu yang lalu, leher gondokan, pala cenat cenut, kaki gemeteran, Kecapean jalan karna panas, bukan karna harga tiket yah, hahahahaha…

menurut Wikipedia :
Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan (bahasa Thaiวัดพระเชตุพนวิมลมังคลารามราชวรมหาวิหาร), atau dulu dikenal Wat Pho (bahasa Thaiวัดโพธิ์), juga dikenal Candi berbaring Buddha, adalah Candi Buddha Distrik Phra NakhonBangkokThailand, terletak di distrik Rattanakosin secara langsung berdekatan Istana Raja. Candi ini mempunyai nama resmi Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn (Thai: วัดพระเชตุพนวิมลมังคลาราม ราชวรมหาวิหาร). Wat Pho juga dikenal tempat lahirnya Pijat Thai tradisional.




foto Telapak Kaki Budha

Hari sudah semakin siang, panas semakin menyengat, nanti sore kami akan terbang lagi dari Don Mueng menuju Phuket, sebenarnya dari Kota Bangkok ini menuju Phuket bisa melalui jalur darat baik Bus ataupun Kereta, karna perjalanan darat memakan waktu yg lama, Waktu liburan yg terbatas dan juga harga tiket pesawat dari Bangkok menuju Phuket hanya 300an ribu, maka jalur udara adalah pilhan yg bagus.

Teringat dengan kemacetan lalu lintas kemarin, maka kami memutuskan menggunakan Grab Car dari Wat Pho ini untuk menuju Don Muang Airport, memang biaya yg kami keluarkan lebih mahal, tetapi sepertinya ini pilhan bagus, dibandingkan semua Itinerary menjadi kacau karena terlambat datang ke Air port lalu ketinggalan pesawat. 550 Baht + bayar tol 125 Baht.



Makan siang di Halal Food Restaurant  Air Port 225 Baht untuk 2 orang, menunya lumayan enak, tak lama kemudian Check-in penerbangan menuju Phuket dengan Nok Air di buka. Kebayang kalo pake Public Bus trus lalu lintasnya macet menjelang menit2 keberangkatan masih di dalam Bus, jarak tempuh ke Air Port masih jauh, Oa Allah…. Bisa kencing di celana, yg ada beli tiket lagi untuk penerbangan sekarang, tentunya harus di beli dengan harga bengkak…. Gak kebayang deh….! Niatnya Travelling dengan cara Backpacker dengan slogan sehemat mungkin eh malah bengkak gak karuan.

kondisi lalu lintas yg padat

Dari sisi ini saja, ada pelajaran yg dapat kita ambil, Travelling ala Backpacker mengajarakan kita bagaimana cara mengambil keputusan yg tepat, kebayang kan kalo kita sering melakukan perjalanan di beberapa destinasi lain, hal hal seprti ini pasti akan kita temui lagi, dan tentunya itu akan melatih kita bagimana kita dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan, So pasti akan sangat bermanfaat jika kita gunakan di dalm dunia kerja.

Tiba di Phuket Air Port, langsung bergegas ke pintu keluar untuk cari mini bus yang akan antar kita ke Patong (Salah satu daerah di Phuket), sebenarnya ketika masih di dalam area Gedung air port sudah banyak sekali yg menawarkan jasa transportasi menuju Phuket, karna gw lihat bnayk orang dalam 1 pesawat tak ada yg berhenti untuk membeli, akhirnya gw memutuskan untuk tidak membeli juga, sambil cross check harga sih itu tujuan utamanya.

Setelah keluar gedung ada bnayak sekali Counter Loket penjulan tiket jasa transportasi menuju Phuket : Town 150 Baht, Patong 180 Baht, Kata 200 Baht, dan Karon 200 Baht.


Sepertinya dari semua loket bus bertarif sama, yg anehnya dari semua penumpang yg ada dalm Mini Bus, kami berbeda-beda tempat dalam pembelian tiketnya, dan itu bisa dilihat dari lembar tiketnya yg berbeda warna & logo agen jasa transportasinya, tetapi kami dalam satu mini Bus.

Mungkin mereka hanya menjual tiket saja dan selanjutnya para pemilik kendaraan akan mendapat bayaran berdasarkan dri jumlah lembaran tiket penumpang yg mereka ambil dari para penumpang yg diangkut. 360 Baht kami bayar untuk berdua dengan tujuan Patong, karna memang hotel yg telah kami Booking Hip Hotel berada di daerah Patong. Penumpang dalam satu Mini Bus ini berbeda tujuan, lalu pak supir akan mendata seluruh hotel yg akan dituju dari masing2 penumpang, karna mini Bus ini akan mengantarkan kita ke setiap hotel masing2, artinya tidak semua penumpang diturunkan pada satu tempat.

Sebelum mencapai lokasi tujuan kami diturunkan disebuah agen tour, lalu kami disuruh turun untuk masuk ke dalam kantor Agen Tour, pihak agen tour ternyata sudah bekerjasama dengan para pemilik mobil, ada banyak brosur yg ditawarkan, paket nya macem2 mulai dari phi phi Island sampai dengan wisata kota Phuket, harga nya ampun dah ada yg sampai 2x harga normal, wakakakak..

Gw pun menolaknya, kebetulan gw sudah tahu berapa tariff yg harus gw bayar untuk phi phi island, harga dari Agen tour ini kebilang kelewatan, memang sih di akhir obrolan mereka memberikan discount tapi tetap saja masih jauh dari harga yg gw tahu.

Gak lama berselang ada mobil taksi datang, penumpangnya juga di suruh turun oleh supir taxi untuk masuk ke agen tour tersebut, si penumpang menolak, tetap saja di suruh untuk turun, terlihat sedikit perdebatan antara supir dan penumpang, si penumpang merasa tempat ini bukan tujuan yg dia tuju kenapa harus turun?, lalu beberapa orang dari agen tour datang dan memaksa si penumpang untuk turun, entah seperti apa kelanjutannya, karna mini bus yg gw naikin bergegas berngkat menuju Patong.


Para Backpacker memang dituntut untuk siap menghadapi kondisi seperti ini, Scam di setiap daerah wisata itu pasti ada, bahkan pencurian barang2 berharga kita yg kita tinggalkan di kamar hotel itu banyak terjadi, pencurian kendaraan yg kita rental dari mereka dgn memakai kunci duplikat, tariff yg berlaku tidak sewajarnya, semua harus sudah kita antisipasi sebelum kita melakukan travelling.

“Hip Hotel”, teriak pak Supir, rupanya Hotel kelas Backpacker yg kami booking posisinya di dalam Gang kecil, sehingga mini bus ini tidak masuk ke dalam, hanya mampu mengantarkan kami di muka gang. Pintu belakang mini bus dibuka, tas gw posisinya ada di paling bawah, hemmmmm.

Gak jauh posisi hotel dari muka Gang, Jalan kaki 100 meter, sampai di hotel, tempatnya bagus juga gak terlalu ramai, artinya gak bising cocok buat pacaran sama bini, wakakakk.



Hip Hotel ini gw referensiin deh buat kali yg ingin berlibur ke Phuket, gak mahal, gak bising, resepsionis nya ramah, dan dia mampu berbicara bahasa Inggris dan Melayu.

“Where are you from ?” ,  Indonesia.
Indonesia..? Yes Mam.
Boleh lah kita sikit cakap Melayu..? wakakakak..

Ternyata si ibu pernah jadi TKW di Malaysia, 6 tahun lamanya, dan rindu akan berbicara dengan bahasa Melayu katanya. Jujur dari hati gw, asli si Ibu ini ramah sekali.  Si Ibu mengantarkan kami ke lantai 2 kamar yg telah kami pesan, mandi sebentar lalu baru inget kalo kami belum membeli paket tour ke Phi phi Island, dengan melihat karakter si ibu yg ramah itu akhirnya gw turun ke bawah menanyakan tentang paket tour ke Phi Phi Island. Dia menunjukan tumpukan brosur yg ada di atas meja. Sambil mengatakan,  

"buat awak nanti ada diskon besar".



Ada dua pilihan yg menarik :
  1. Paket James Bond, 4 Island 3 Canoe (James Bond, Panak, Hong, Lana) price 3.200 Baht di Brosur.
  2. Paket Phi phi, 4 Island 9 poinjt (phi phi lay, Maya Bay, Pileh Lagoon, Lhosama Bay, Viking’s Cave and Monkey Beach, Phi phi Don, Khai Island) 2 x Snorkeling. 2.800 Baht di Brosur.

Pilihan kami jatuh pada nomer 2, tapi saya katakan This is Very Expensive,

Si ibu bilang buat awak ada diskon, jadi hanya 1.300 Baht saja.
"Anjritttttttttt lebih dari setengahnya",

buat kalian2 yg akan berlibur ke Phuket klo mo nawar2 harga paket tour, tawar lah serendah rendahnya, karena brosur2 yg mereka cetak itu harganya sungguh kelewatan.

Akhirnya si ibu telpon pihak penyelanggara tour, dan katanya masih ada 4 slot yg kosong untuk esok hari, kami langsung book paket tour tersebut untuk esok hari, agar lusa kami sedikit santai di Phuket sebelum akhirnya terbang menuju singapur dan lanjut ke Jakarta.

Si ibu bertanya mau dibayar sekarang di sini atau nanti di sana saja di lokasi dermaga, akhirnya gw memilih bayar cash langsung di sini karena percaya dengan sikap keramahan si ibu. Tapi tetap saja gw harus minta bukti pembayarannya.

3 Oktober
Pagi sekali dah bangun, bikin kopi ambil air panas gratis yg udah disiapin pihak hotel di lantai bawah, lalu jalan2 keluar ke arah jalan utama cari tukang makanan buat sarapan pagi, buat kalian yg muslim jangan takut kesulitan untuk mendapatkan makanan halal di sini, Phuket rata2 penduduknya muslim, jadi cari makanan halal bukanlah hal yg susah.

Bahkan ketika kalian tiba di Phuket Airport banyak sekali petugas2 Airport yg berjilbab, jadi memang seperti berada di daerah pulau jawa saja. Gak berasa luar negeri nya.


Sarapan pagi beli macem2 gorengan ada lontong juga dengan isi mie, gw Tanya How Much ? si bapak jawab pake bahasa Thai, nah lho..?
Dia pergi panggilin perempuan minta di translate in, dan perempuan itu bilang kirain gw ini bukan turis, tapi  orang asli thai karena muka nya sama dengan masyarakat Phuket.

Oa Allah Non, pliss deh ah gw ini turis, masa sih gak meyakinkan lo, gimana sih gw juga sama dong kaya bule bule itu pengen di anggap dan diberikan sertifikat berstampel kalo gw itu turis. Hahahaha..

Yg paling parah selain gw dianggap bukan turis, nih cewek ternyata propesinya pekerja sex komersil,
“ Do you want massage.?”  No.no Thank,
“please Massage with me,  No no thank you.
"You can massage with plus plus"
“Where are you stay? Hip Hostel.
"Yes, I Know,...
“Which room?,  gw diem bae ora mao jawab,
" Room number, room number, room number" sambil jalan terus ngikutin gw,

Ya Ampun nih cewek, blm tau dia, kalo di kamar gw ada singa, habis lu di cakar cakar bini gw, 
blm lihat aja lu lengen bini gw, mati lu di smack down. Hahahaha.

Ada beberapa pria di sebrang jalan yg bersorak sorai, ngelihat kelakuan nih perempuan yg terus menggoda ngikutin jalan gw, hemmmmmm. 

Dalem hati seandainya bini gw kgak ngikut trip ini, ..wakakakak.

Pelajaran pagi ini dari sebuah perjalanan, ternyata prostitusi itu berlaku dimana saja, Phuket yg rata2 muslim tetap saja praktek prostitusi itu ada, jadi inget dengan Cianjur, prostitusi berkedok kawin kontrak yg rata2 pelanggan nya pria pria dari timur tengah, sampai detik ini tetap jalan dan sulit untuk dihilangkan.

Mungkin itulah efek negatif dari pengembangan kota2 wisata di beberapa Negara, ketika daerah tersebut tidak siap maka efek negatifnya muncul, dibutuhkan banyak strategi untuk meminimalisir efek2 negatifnya, jadi tidak hanya terpaku kepada besarnya nilai peningkatan pendapatan masyarakatnya.

Di lobi hotel resah juga menunggu jemputan dari pihak agen tour, katanya jam 7 tapi ini sudah jam 8 blm juga datang. Tak lama petugas hotel datang dan ternyata orang yg berbeda, dan gw tanyakan hal tersebut kepada dia, lalu dia telpon pihak agen tour, dan sdang dijalan katanya menuju ke sini.

15 menitan si bapak penjemput datang, mobilnya menunggu di depan gang. Ya Ampun kirain gw bakal dijemput pake mini bus, trus digabung bersama peserta lain, karna memang seperti itu yg gw tahu dari hasil baca dibeberapa blog,  eh malah di jemput pake sedan pribadi, yg isinya Cuma gw dan bini gw. VIP bngt yah…?? 

30 mnitan sampai di dermaga keberangkatan, Chean Vanich Pier namanya, di sini ada banyak agen tour menuju pulau phi phi, agen tour kami adalah Nutticha Marine Co.,LTD, di sini kita registrasi ulang, hanya tanda tangan saja dan diminta untuk menulis nama hotel tempat tinggal. Mr Peter menyuruh saya untuk mengambil sarapan pagi yg telah disedikan di sudut gedung, satu persatu peserta tour berdatangan, setelah semua kumpul, barulah Mr Peter mejelaskan semua tentang isi paket tour, mulai dari titik keberangkatan, makan siang, jam keberangkatn pulang, hingga prosedur keselamatan dan tata cara menggunakan pelampung serta alat2 snorekling.


Semua Ok, lalu kami diberikan gelang, gelang ini ada nomer telponnya, jangan sampai lepas apalagi hilang, gelang ini berguna sekali ketika kemungkinan terburuk terjadi sperti kecelakaan atau hilang terseret ombak, jadi cukup mudah jika ingin mengkontak pihak agen tour.
Jadi teg teg an jantung gw…. Masalahnya gw kagak bisa berenang.

Untungnya Mr Peter meyakinkan bagi peserta yg tidak bisa berenang pasti akan dibimbing untuk mencoba snorkeling.
Sebelum menaiki Speed Boat, kami terlebih dahulu di foto bersama masing2 keluarganya atau groupnya.
Speed boat perlahan meninggalakan dermaga, tujuan pertama kami adalah Maiton Island for Snorkeling.



1 jam snorkeling di sini, sebenarnya masih blm puas sih, menurut bini gw yg pernah ke Raja Ampat - Papua , gak ada apa-apanya, masih kalah jauh di banding Raja Ampat. Koral nya, ikan ikannya, pokoknya Raja Ampat lebih cuaaantik.

Perjalanan selanjutnya adalah hanya Sightseeing at phi phi Lay, Maya bay, Pileh Lagoon, Lohsama Bay, Vicking’s Cave dan Monkey Beach. Hanya lihat-lihat saja sayang bangat sih,  gak bisa turun atau snorkeling di sini, jadi sejak 2 tahun yg lalu daerah ini sedang ada proses rehabilitasi/konservasi jadi seluruh turis di larang untuk berenang/snorkeling dan kapal2 pun dilarang berlabuh di pantai, karena banyak sekali ditemukan kerusakan pada karang/koral di sekitar tempat ini, padahal tadinya pengen bergaya ala Leonardo De Caprio dalam Film Beach gitu, apalah daya….







Perjalanan selanjutnya adlah Phi Phi Don, makan siang di sini, masakannya sangat uenak uenak uenak, sampai kepikiran cari orang sini buat di pekerjakan di Indonesia buat buka rumah makan, makanan yg disajikan model prasmanan,  jadi paket tour ini dah include makan siang, makan sepuasnya sampe kenyang, pemilik rumah makan yg beragama muslim ini melarang kepada setiap pengunjung untuk meminum minuman yg beralkohol di resto nya.




Sebagian peserta tour ada yg ingin naik ke atas bukit berjalan lumayan jauh dan menanjak ke Phi phi don View point, di atas bukit ini lah kita dapat menikmati  keindahan pantai phi phi dari ketinggian.


Turun dari view point kami mencoba berbelok ke arah kanan, tidak langsung menuju arah speed boat, ternyata di sini ada pantai lagi yg relative sepi. Dan posisi pantai berbeda dengan perairan tempat Boat bersandar, istilahnya posisinya berada di bagian lain dari pulau phi phi ini.



Waktu keberangkatan pulang sudah dekat, kami harus segera menuju kapal. Takut nanti dimarahi sama Mr Peter, bagi yg ingin stay di Phi phi Island ini, bisa saja menggunakan angkutan public yakni naik kapal ferry, entah berapa tarifnya, mungkin suatu saat nanti boleh di coba.


Destinasi selanjutnya dan terakhir adalah Khai Island, speed boat di pacu dengan kecepatan tinggi terkadang semburan ombak masuk ke dalam boat, semua penumpang teriak histeris karena basah, sesekali kecepatan boat dikurangi karena semakin tak terkendali untuk dikemudikan, kalo tetap dipaksa dengan kecepatan tinggi pasti akan terbalik.  Jujur aja gw sedikit takut dengan kondisi seperti ini, akhirnya memutuskan untuk memakai jaket pelampung, karna jika terjadi kemungkinan terburuk setidaknya gw akan ngambang di atas permukaan air laut.



Tiba di Khai Island, kita diminta untuk memebrikan sumbangan ala kadarnya, karena di sini dibuat jembatan dermaga dari bahan pvc, yg tujuannya memudahkan para turis turun dari boat menuju pantai, aktifitas di sini bebas aja, ada yg belanja, foto2 ada juga yg snorkeling, ikan2 warna warni di khai island ini cukup beragam, memang sih koralnya kurang bagus.


Perjalanan selanjutnya perjalanan pulang menuju Chean Vanich Pier, titik awal keberangkatan, di sini kami diberikan hidangan penutup berupa buah-buahan, dari semangka melon hingga minuman dingin, lumayan banyak juga yg diberikannya, bahkan kami sampai berkali-kali memakannya, ketika posisi sudah dekat dengan dermaga kami diminta untuk mengembalikan alat2 snorkeling, semua di cek berdasarkan nomer, jadi di alat snorkeling itu sudah ada nomer2 nya dan dicatat siapa pemakainya.  Jika ada nomer yg hilang maka ada penalty tentunya harus mengganti.

Mr.Peter kembali berorasi di dalm boat, kami diminta untuk memberikan tips bagi kru kapal, seikhlasnya dan seridonya, dan sebanyak-banyknya… wakakakak..

Sampai dermaga, kami dipersilahkan untuk melihat foto yg sudah terpasang bersama bingkainya ada ornament khas dan tulisan phi phi island, foto ini adalah foto yg diambil ketika berangkat tadi, kirain gratis gak taunya suruh bayar, kata kalkulator gw mahal, akhirnya gak jadi beli deh.

Satu satu kami di panggil, dan diperintahkan untuk menuju mobil mini bus yg telah diberikan nomer, kita tinggal duduk manis dalm mobil tersebut dan lalu diantarkan menuju hotel kita masing-masing.

Selsai bersih-bersih di hotel, gw dan istri sightseeing kota Patong, cari makan malam rada repot juga, semua tempat makan penuh, Cuma resto khas India aja yg rada kosong, warteg dan masakan Padang kgak ada, jadi bingung, akhirnya apa boleh buat makan di resto khas Thai yg penuh juga, di resto ini lama bngat penyajiannya hamper 1 jam menunggu, sampai niat mo cancel aja, karna kesal menunggu. 


Makan malam yg mahal 370 Baht = IDR 175.000,- ini sih namanya bukan Backpackeran,

Alarm calculator gw bunyi terus, mahal, mahal, mahal, mahal, ah Sudahlah yg penting bisa makan gak masuk angin, lanjut jalan ke Bangla Walking Street,

"Ya Ampun"
ini adalah  tempat huru hara, saran gw yang pertama dan utama, jangan ke tempat ini kalo kalian bawa anak kecil, gak bagus buat psikologisnya.

apalagi buat kalian yg liburan ke sini gak bawa bini, bahaya… wakakakak.




Dari Bangla Walking street ini, jika ke terus ke arah belakang mengikuti  jalan nanti kita akan sampai di Patong Beach, buat kalian yg ingin santai malam hari di pantai mungkin tempat ini bagus juga untuk di kunjungi, gw sendiri esok pagi baru menikmati pantai ini, karna kondisi fisik yg lelah dan ngantuk setelah tadi siang ngetrip ke phi phi island.


4 Oktober

Pagi hari sekali kami langsung check-out dari hotel, seperti biasa untuk menghemat pengeluaran, ngerefil  air mineral isi sampai penuh mumpung gratis.  Jalan kaki ke kota patong, kalo perempuan biasa gak boleh ngelihat Mall, langsung belok.




Angkutan umum trayek Kota Phuket-Patong

Hari semakin siang kami gak banyak beli oleh2 di sini,  karena memang relative mahal harganya, lalu berjalan menuju pantai, di dekat pantai inilah terdapat Bus dengan tujuan Phuket Air port, tempatnya persis di depan Pos Polisi.






Jika sebelumnya kami menggunakan mini bus dari air port menuju Patong, kali ini kami menggunakan Bus to Air port.

Dari beberapa blog banyak yg menulis bahwa bus ini tidak menerima pembayaran cash, jadi kita harus beli kartu terlebih dahulu sebelum menggunakan transportasi ini,  namun sblm gw berangkat ke sini gw coba cek di web resmi dari bus ini, ternyata menerima pembayaran cash, sebelum naik  gw bertanya terlebih dahulu untuk memastikan apakah bisa dengan cash atau tidak. Dan ternyata bisa by cash, 170 Baht.



perjalanan dari Pantai Patong ini lumayan indah, disebelah kiri terhampar luas lautan, sesekali bus menaiki bukit, lalu melewati kota Phuket, dan berakhir di Phuket Airport.

suasana bandara lumayan ramai, di dekat bandara ini sebenarnya ada tempat wisata juga berupa pantai, kebanyakan para turis berfoto/selfi ketika pesawat akan landing, dari arah lautan menuju landasan di bandara, bagus2 sih fotonya, tapi katanya hal itu sekarang dilarang oleh pemerintah thailand dan ada hukuman pidananya, karena membahayakan diri. 

selain karena males, mungkin karena fisik yg sudah lelah, kami tidak mengunjungi pantai itu lebih memilih bersantai dan tidur sore di area dalam bandara, kebetulan nanti kami ada penerbangan malam menuju singapura, dan pastinya akan bergadang di Changi Airport Singapur, baru kembali melakukan penerbangan esok pagi menuju Soekarno Hatta Airport.

mendekati tengah malam kami tiba di Changi Airport, suasana sepi, lalu cari bangku kosong buat rebahan dan tidur tiduran, Jangan takut tidak aman  dengan bandara ini, bandara ini terkenal aman, jadi gak bakal ada tindak kriminal di bandara ini.

dibeberapa sudut ada kursi relaxasi, pijit gratis tinggal pencet, atur stelannya sesuaikan dengan ukuran telapak kaki dan betis, saking asiknya sampai ketiduran.

5 Oktober
pagi pukul . 08.15 pesawat Jet Star Take of menuju CGK.
pukul. 09. 10 pesawat landing di CGK

cari makan pagi, beli nasi goreng di Solaria, lalu jalan kaki menuju terminal Damri buat naik BUS ke Cikarang, pesan Grab Car buat ke rumah Tambelang.
End Trip.

Terima Kasih Ya Allah, atas segala nikmat ini.
perjalanan ini banyak mengajarkan kami tentang arti kemanusiaan.

#Kamboja
#Thailand
#Backpacker
#Grand Palace
#Killing Field
#Touel Sleng
#Angkor Wat
#Wat Arun
#Wat Pho
#Phuket
#Phi phi Island

Senin, 27 April 2020

Perjalanan adalah Sebuah Pelajaran (Part 1)


4 Kota 2 Negara

Kamboja (Phnom Pen + Sieam Reap)

Thailand (Bangkok + Phuket)


Berawal dari sebuah tiket promo Citilink, Jakarta to Kamboja hanya 400an rebu saja, karena toko lagi rame, gak langsung beli tiket, setelah toko sepi ada waktu sedikit langsung kontak istri ngasih kabar akhirnya deal kita ngetrip ke kamboja, tiket promo dibeli, cuma sayang dalam hitungan menit saja harga sudah berubah jadi 500an rebu, “Oalah lumayan itu 100rebu buat beli bombon”.

Issued Ticket, yess, ngetrip lagi…

Terus mo ngapain nih di kamboja..?
Yg gw tau Cuma Angkor Wat doang yg nyohor ke seluruh negeri, Candi yang ada di film Tom Raider, tentang Lara Croft gadis cantik  anak dari seorang petualang yg pergi mencari misteri hilangnya sang ayah, yah Angkor Wat lah salah satu tempat yang dijadikan tempat pengambilan adegan film Tom Raider. Candi candi tua yang diselimuti oleh akar2 pohon besar yg terkesan seperti kehidupan purba.
Dari hasil tanya2 sama Mbah Google ada sedikit gambaran wisata selain Angkor Wat diantaranya :  Royal Palace, Museum Nasional, Wat Phnom, Silver Pagoda, Independent monument, Russian Market, Tuol Sleng Genocide Museum dan Killing Field.

Langsung bikin itinerary, tapi akhirnya sedikit dibuat bingung dan sepertinya akan bosan, karena wisata yg dikunjungi Cuma bangunan2 doang, iseng-iseng cek penerbangan Bangkok ke Phuket, “Oalah murah 300an rebu, akhirnya rubah itinerary sekalian Thailand aja. Siem reap to Bangkok overland aja, lebih kerasa petualangannya.

Singkat kata itinerary dah fix, transportasi + hotel udah booking semua, tinggal phi phi island aja yg masih mentah, rencana go show aja…,
hari “H” pun datang ngetrip dimulai:

27 Sept
Penerbangan citilink pukul 10.55 WIB, di dalam pesawat kita diberikan form Imigrasi. Kartu Kedatangan dan keberangkatan Negara Kamboja, untuk Indonesia sendiri kartu seperti ini sudah lama tidak diberlakukan, jadi gak perlu lagi ngisi form yg seperti ini, seperti biasa hampir semua Negara format dari form ini sama persis.




Biar nanti ketika di imigrasi gak lagi repot dengan urusan yg beginian, lebih baik form ini di isi di dalam pesawat selagi nyantai.

Pukul. 14.25 Waktu Phnom penh pesawat landing dengan mulus, dan ternyata Phnom penh dengan WIB Jakarta tidak ada perbedaan waktu, air port nya tidak semegah Indonesia, antrian imigrasi tidak terlalu panjang Cuma nunggu 2 orang saja langsung di panggil, petugas gak terlalu banyak Tanya, tujuannya apa? Tinggal di mana? Berapa lama?. Di jawab dengan santai tanpa gugup atau berlagak mencurigakan, mulus lah di Imigrasi,

Ahayyyyyy… Petualangan di mulai..

Oh yah, kebetulan kami berangkat dengan 2 orang cewek anak BPI (Backpacker Indonesia) Yuli dan Fika, ternyata mereka juga sama karena termakan promo murahnya Citilink, dan kebetulan tanggal keberangkatannya pun sama, Yuli sendiri hanya explore Phnom penh dan Siem reap saja karena cuti yg terbatas, sedangkan Fika gabung dengan kami menuju Bangkok Thailand lewat jalur Darat by BUS. Di Bangkok kami dan Fika juga harus berpisah karena berbeda Destinasi Wisata, Fika Menuju Ayuthaya kami sendiri akan terbang menuju Phuket.

Di Air Port kita beli SIM Card Lokal, 5 USD Paket Internet  40GB berlaku 5 Hari saja, ini yang lucu buat Negara ini, Kamboja adalah sebuah Negara yg bertransaksi dengan 2 Mata Uang, yakni US Dollar dan Riel Kamboja, sedikit bingung sih untuk di awal, Kita bayar pake US Dolar nanti kembalian Pake US Dolar trus di tambah Riel Kamboja, yang matematika nya payah pasti ngeluarin kalkulator buat ngitung2 convert…. Hahahahaha…

Berbekal baca2 dari Travel Blogger, untuk mencapai pusat kota bisa dengan menggunakan tuk-tuk, tapi harus sedikit menjauh dari gerbang Air port supaya dapet harga Murah, sebenarnya kalo kita berangkat sendiri Public Bus jauh lebih murah, karena kita berempat jadinya sewa tuk tuk adalah pilihan terbaik dan itung itungnya  tidak terlalu mahal plus langsung ke Hotel. 10$ kata supir tuk-tuk, kami tawar 6$, dealnya 7$, oke lah..

Sebelum tuk-tuk berjalan pak supir bilang, hati2 dengan tas atau camera banyak Jambret, Ok Pak supir. Kami sudah tau tentang itu, dari hasil baca2 di beberapa blog.

Perjalanan menuju hotel sekitar 30 menitan, Edan.. Negara ini. Semua mobil yg lalu lalang di jalan perkotaan rata2 mobil2 mewah, Avanza Xenia Ertiga Innova Panther kagak ada…  
yg ada Camry, Double Cabin, BMW, Mercy, Audi, Lexus, Land Rover, Rolls Royce, heran daku, Negara Miskin tapi kok ….??? Entahlah.. yang jelas tuk-tuk yg kami naiki terhimpit di sela-sela mobil mewah yang berkeliaran.

Tidak seperti di Nepal para pengemudi yang ugal-ugalan , lalu lalang kendaraan di sini terkesan sopan sopan para pengemudinya.

Di Phnom penh ini kami hanya Booking hotel 1 malam saja, di Best Central Point Hotel, hotelnya lumayan nyaman untuk kami para traveller ala Backpacker, sampai hotel istirahat sebentar rebahan, sore hari kami cari makan halal, kebetulan ada warga Negara Indonesia yg berdagang di dekat Istana Raja/Mekong river, nama restonya Warung Bali, berbekal Google Map kami jalan kaki menuju lokasi yg ternyata hanya 10 menitan, tapi sayang ketika sampai lokasi Warung Bali nya tutup, selama 3 hari di mulai dari hari ini, “Oalah, kirain dapet makan gratissss atau minimal murah lah karena sama2 asli Indonesiahhhhh…”

Akhirnya lanjut jalan menuju Mekong River, di area ini kalo sore tempatnya masyarakat Phnom penh beraktifitas manja-manja, cari makanan, duduk2 santai, foto2, gelar tiker bawa cemilan, pacaran, naik2 boat, rame sekali.

Tapi sayang cemilan di jalan2 yang dijajakan rata2 kurang selera, kami hanya bisa melihat, tanpa membeli, ada pedagang yang menjajakan gorengan : Jangkrik, Ulet, Burung2 kecil, Kecoa, Belalang, aneh lah… makannannya.
Karena unik ada beberapa pedagang yg memberlakukan tarif 1$ kalo kita mau ngambil fotonya.


Setelah puas berkeliling di sekitar Istana Raja dan Mekong River, kita nanya Google Map lagi buat nyari Halal Food, dapet lokasi yg harus jalan kaki selama 15 menitan, setelah sampai ternyata masakan India memang halal Food, tapi Maaf bukannya Rasis, Masakan india terlalu banyak di rempah-rempah, tidak biasa bagi lidah Indonesia, Inget sekali waktu di Singapur tinggal di Little India, sampai gak enak makan masakannya sangat tidak bisa di terima lidah, akhirnya cari tempat lain, Halal Food Restaurant Kamboja, jalan lagi 10 menitan sampai lokasi, ternyata yg dijual masakan asli Kamboja tapi Halal food, sudah kami makan di sini, dan bertemu dengan Mas XXX Asli Jogja yg sedang bekerja di Kamboja, dan sering makan di sini, penjualnya nya pun Penduduk asli Kamboja Muslim.

Selesai ngisi bahan bakar kembali ke hotel jalan kaki saja, langsung tidur ngumpulin energy untuk besok keliling2 phnom penh selama satu hari full.


28 Sept
Pagi sekali kami berempat keluar hotel, dan langsung check out karna batas checkout adalah jam 11.00, dan pasti jam segitu kami masih muter2 untuk explore phnom penh, dari pada kena charge lebih baik check out lebih awal,  tapi tas kami titipkan di hotel, tidak kami bawa dan akan kami ambil nanti setelah trip hari ini selesai. Di depan hotel ada tuk tuk yang lagi mangkal langsung saja kami samperin, karena memang hari ini kami akan berkeliling kota phnompen 1 hari full pakai tuk tuk.
Tarif sewa tuk tuk tergantung dari berapa tempat wisata yang akan kita kunjungi, pak supir tuk tuk menyodorkan gambar, Wat Phnom, Royal Palace, Rusian Market, Tuol Sleng, Killing Field, tempat yang kami tunjuk, 20$ deal.

Wat Phnom ticket masuk 1$ perorang, sedangkan untuk masyarakat local sih free, karena ini merupakan tempat peribadatan, tidak terlalu banyak yang dapat di explore dari tempat ini, hanya bangunan bergaya arsitektur khas kamboja.


45 menitan kami di sini langsung ngacir lagi menuju Tuol Sleng Genocide Museum, tiket masuk 5$, dulunya ini adalah sebuah sekolah Tuol Svay Prey Secondary School, yang diubah menjadi rumah tahanan oleh Rezim Pol Pot, cerita pilu atas kekejaman sangat jelas di museum ini, ribuan orang ditangkap dan disiksa karena berbeda paham politik, setiap tahanan di paksa untuk menyebutkan saudara dan rekan sahabat yang lain, dan pada gilirannya untuk ditangkap, dan dipenjarakan bahkan dibunuh karena berpotensi akan melawan rezim Pol Pot, meskipun alasan resmi mereka adalah untuk penyuluhan, tapi nyatanya mereka di siksa dan kemudian di bunuh. 

Bangunan penjara ini ketika itu temboknya di pagari kawat berduri dan di aliri listrik agar tahanan tidak bisa kabur, pada tahun 1975 sd 1979 diperkirakan 17.000 sd 20.000 orang dipenjarakan di sini, setiap hari para tahanan disiksa, bahkan anak2 balita pun mati di bunuh, karena dianggap berpotensi berbahaya bagi kekuasaan Pol Pot di masa yang akan datang. 


Beberapa foto terpasang bagaimana penyiksaan itu dilakukan, dari 1 ruang ke ruangan lain, semakin sedih, hampir semua pengunjung  matanya berkaca-kaca, kami yakin hati mereka menangis seperti kami, bagimana mungkin hal ini bisa terjadi? Terbuat dari apa hati manusia yang tega melakukan kekejaman seperti ini.?


Penyiksaan itu dengan alat tumpul yang terbuat dari logam, direndam dalam kolam, di gantung, di pecut, di setrum listrik, kepala di bor, dimasukan dalam lemari berisi kalajengking dan laba-laba berbisa.  Jari2 tangan di putus. Bahkan dengan cairan kimia.





Trip ini begitu memilukan, inilah yang mungkin disebut arti dari sebuah perjalanan, bagaimana kita harus saling menghormati walaupun berbeda pandangan, jangan paksakan orang lain untuk sepaham dengan kita, karena orang lain juga punya hak yang sama untuk menentukan jalan hidup mereka berdasarkan hati dan keinginan mereka, intinya saling menghormati jangan saling membenci, apalagi menghasut dan menyebarkan berita2 kebencian agar banyak orang membenci seseorang atau golongan tertentu, sedih rasanya ketika banyak sekali orang orang lebih senang menyebarkan berita yang isinya kebencian untuk membenci golongan tertentu, apakah tidak lebih baik kita menyebarkan berita yang isinya kisah2 yang insfiratip, kisah kepahlawanan kemanusiaan, kisah sukses untuk ditiru, semangat hidup atau sejenisnya, itu lebih bermanfaat ketimbang berita2 yang isinya hasutan kebencian, apalagi sumpah serapah yang tak terkendali, seolah diri paling suci ahli surga, dan merendahkan golongan lain.


Sungguh mengunjungi Tuol Sleng memberikan banyak pelajaran tentang hidup, bagaimana kita harus menghormati orang lain. Dan tidak memaksakan kehendak.

Menjelang siang perjalanan selanjutnya adalah Russian Market, “O ow, ” Russian Market tutup, usut usut punya usut menurut pak supir tuk tuk, ternyata 3 hari ini adalah sedang ada perayaan hari besar keagamaan, jadi banyak sekali toko yang tutup di 3 hari ini, akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju Killing Field.

Sebelum masuk Killing Field kita makan siang dulu, di resto sekitar area wisata Killing Field.  

Selesai makan siang, masuk Choeung Ek – Killing Field tiket 6$, setelah kita membayar tiket kita diberikan sebuah perangkat Audio, nanti disetiap lokasi ditandai dengan  nomer lalu kita tekan alat audio nya sesuai dengan Nomor tempat, lalu audio tersebut bercerita apa yg terjadi di tempat yg bernomor tersebut, Choueng Ek adalah Ladang pembunuhan paling terkenal dari lebih 300 ladang pembunuhan lain di seluruh Kamboja, Rejim Kampuchea Demokratik yang diketuai Pol Pot merupakan rejim Brutal yang telah membunuh jutaan rakyat Kamboja.




Di Nomer 6 ini terdapat bahan kimia yang digunakan untuk membunuh dan digunakan agar mayat korban tidak terlalu bau, di sampingnya berdiri Sebuah pohon besar dengan batang berduri  seperti gergaji, batang pohon ini lah yang digunakan para algojo untuk memotong leher korban, selain cangkul, golok, dan besi tumpul, peluru terlalu mahal dan berharga bagi mereka jika hanya digunakan untuk membunuh.

Di nomer 7 dalam satu lubang ditemukan mayat 450 orang, Di Nomer 13 setelah digali ditemukan 166 kerangka manusia tanpa kepala, di nomer 14 ada sebuah kotak terbuat dari kaca di dalamnya berisi pakaian2 korban, di sini kembali hati seperti diiris-iris karena terdapat pakaian berupa celana yg sangat kecil, dan mungkin celana itu yg dikenakan balita yang baru berumur sekitar 2 tahunan.


Di tempat lain di nomor 15, terdapat sebuah pondokan di sampingnya terdapat pohon besar, dari cerita di audio pohon ini digunakan untuk membunuh balita dengan cara memegang kedua kakinya lalu kepala bayi di hempaskan ke pohon sekeras-kerasnya, ketika lokasi ini ditemukan terdapat banyak sekali rambut yang menempel di batang pohon, bahkan ditemukan beberapa gigi disekitaran batang pohon.

Banyak sekali cerita-cerita memilukan dalam Audio, kesaksian para algojo dipersidangan, dan korban yg berhasil melarikan diri. Semua sangat menjadi pelajaran berharga bagi kita dalam menjalani kehidupan, bahwa pentingnya arti persaudaraan dalam kemanusiaan, sikap saling menghormati dengan orang2 yg berbeda, nilailah manusia dari sikapnya, jangan hanya dari kadar ilmu yg dimilikinya, Lihat saja Pol Pot anak petani kaya yang mampu sekolah di luar negeri, memiliki keilmuan yg luas, ketika pulang ke kampung halaman menciptakan perang dan kekejaman bagi saudaranya sendiri.

ketika kita terlalu mengagungkan seseorang karena kadar keilmuannya seolah dialah orang hebat, orang paling suci, orang paling benar, tanpa melihat sikap kesehariannya, yang gemar menghujat, menghina, mencaci maki sepertinya sikap seperti itu tidaklah bagus untuk dipertahankan. Inget sekali dengan ceramah Almarhum KH. Zaenudin MZ, “kalolah pedang melukai tangan gampanglah untuk diobati, tetapi ketika lidah melukai hati hendak kemana obat dicari”,

Sedikit intermezzo : ini kisah nyata tentang kegelisahan seorang teman sepermainan di masa kecil, dia begitu gelisah karena Ibunya yg semakin berumur harus menunggu keberangkatan ibadah haji yang terus molor, awalnya hanya menunggu 4-5 tahun, lalu menunggu 8-10 tahun, dan terus molor, kekhawatirannya bukan tak beralasan semakin tua tentu kondisi fisik semakin menurun, bagaimana jika nanti berangkat ibadah haji kondisi si ibu tak memungkinkan karena terlampau tua, di sisi lain ngobrol sedikit dengan salah seorang pemuka agama yang akan berangkat untuk mendaftar haji, saya bertanya tentang lamanya waktu tunggu keberangkatan, dengan entengnya dia menjawab, itu mah gampang bisa di atur kang, harusnya nunggu 12 tahun bisa diakalin pake beginian,  “jari Jempol dan jari tengahnya di adu sambil digesek-gesek berulang-ulang”, “2 atau 3 tahun juga berangkat, ucapnya” disinilah yang disebut mengaji gratis..

Saya akan selalu mencoba menilai sesuatu tidak secara instan, ada factor lain yang jadi referensi, menilai sesuatu tidak dengan mentah. Jutaan hakim dan jaksa belajar tahunan ilmu hokum,  tahu dan hapal aturan hokum dalam beberapa kitab undang undang, tapi banyak yg melanggarnya, sama dengan para ahli kitab dalam agama jutaan orang tahu dan hapal aturan2 dalam kitab suci banyak juga yg melanggarnya, Kita doakan saja semoga orang tua temanku segera diberangkat ibadah Hajinya, dan semoga Pak Pemuka agama mendapat hidayah untuk tidak berperilaku merugikan para pendaftar haji terdahulu.. Aamien. 

Kembali ke Choeung Ek, lokasi Choeung Ek ini jauh dari kota, ada banyak pohon seprti hutan, setiap kali akan ada eksekusi pembunuhan mereka selalu memutar lagu-lagu perjuangan partai Demokratik nya, sebenarnya ini hanyalah taktik agar jeritan si korban tidak terdengar oleh masyarakat. Di lokasi ini juga ditemukan korban tidak hanya warga asli Kamboja, tetapi juga wartawan asing yang menjadi korban pembunuhan kekejaman Pol Pot.
Selesai mengunjungi Choeung Ek dan berkeliling sambil mendengarkan Audio hampir 2 jam di lokasi ini saja, lalu perjalanan dilanjutkan menuju Royal Palace dan Pagoda Silver, perjalanan dari Choeung Ek menuju Pagoda Silver dipenuhi dengan cerita kesedihan, kami berempat saling berbagi kesedihan, membayangkan begitu ngerinya tragedy itu, di buku tamu kami menulis “ Semoga tragedy ini tidak terjadi lagi di masa masa yang akan datang.

Sikap permusuhan, kebencian dan rasis sebaiknya di kubur dalam2, itulah pelajaran berharga dari perjalanan Hari ini.

Siang menjelang sore, kami diantarkan oleh supir tuk tuk menuju Grand Palace, awalnya sih ragu masuk grand palace karena masuknya mahal bangat $10 per orang, belum lagi camera foto dan camera video yg kena charge, tapi akhirnya kami memutuskan untuk masuk juga, sayang juga kalo gak masuk mumpung sudah ada di sini, padahal bangunan grand palace ini juga terlihat dari luar tembok, Cuma penasaran aja dengan taman2 bunga yg tertata rapih serta rasa ingin tahu bagian dalamnya. 

Anehnya ketika kami masuk ke dalam bangunan kami tidak boleh mengambil gambar, lho…… ???

Untungnya saat pintu masuk loket, isi tas kami tidak diperiksa sehingga camera kami tidak kena charge, kebayang kalo kena charge trus di dalam gak boleh motret Zongggggg..



Di bagian kiri bangunan grand palace ini sedang ada renovasi, sehingga kami tidak dapat mengexplore nya, dan dari sisi gedung itu terdapat pintu menuju Silver pagoda, dari area silver pagoda ini terdapat kuil peribadatan yg cukup megah, didalamnya terdapat benda2 peninggalan sejarah yg sangat berharga, terbuat dari perak dan emas, di sini pun sama kami tidak diperbolehkan mengambil gambar.


Setelah puas mengekplore grand palace & silver pagoda, kami keluar dan bertemu kembali dengan supir tuk tuk, trip hari ini berakhir, dan kami minta di antarkan menuju pelabuhan kapal wisata di sisi sungai Mekong, niatnya sih mo naik kapal, tapi akhirnya males karena tiba2 hujan turun. 




Akhirnya nongkrong di caffe pesan coffe + kentang goreng $5,5, sambil ngecharge HP yg sudah low batt, check email di inbok, ternyata bus Giant Ibis perjalanan dari Siem reap menuju Bangkok yg sudah kami pesan di ubah jam keberangkatannya, yg anehnya tiket baru yg mereka kirim ke email gw, bukan lagi nama gw, tapi orang lain, harusnya sore itu menikmati senja di sungai Mekong, dengan matahari yg perlahan tenggelam ke sungai yg luas tak bisa dinikmati, malahan ngechat customer service dari pihak Giant Ibis Bus, tentang kesalahan mereka, urusan tiket selesai lalu kami pergi lagi menuju warung halal kemarin untuk makan malam.

Selesai makan malam kembali ke hotel buat ngambil tas, jalan kaki 10 menitan dibawah rintik2 hujan, ketika sampai hotel hujan turun sangat deras, malam ini kami akan menuju Siem Reap dengan menggunakan bus, Gw dan istri pakai Giant Ibis keberangkatan pkl. 23.30 Rp. 336.000 yg kami booking lewat applikasi Klook, sedangkan Fika dan Yuli dengan bis Virak Bhuntam dgn keberangkatan pkl. 23.00. titik keberangakatan kedua bus tidak berjauhan dekat dengan perpustakaan nasional sekitar night market sungai Mekong, dari hotel ditempuh dengan tuk tuk $2, tapi kami akhirnya membayar $4 karena harus kembali lagi ke hotel sebab payung Fika tertinggal di lobi hotel.




Catatan :
Saat menitipkan tas di resepsionis hotel, sebaiknya barang2 berharga dibawa jangan ditinggal, karena kami mengalami sendiri Resleting tas Yuli terbuka, kami tidak curiga dengan pihak hotel, mungkin saja itu dari tamu hotel lain yg sama2 menitipkan tasnya di resepsionis, kebetulan tas tersebut diletakan sedikit agak jauh dari bangku resepsionisnya.

Pkl. 23.30 bus datang tepat waktu, kami langsung naik, kami diberikan kantong plastic untuk menyimpan sandal/sepatu kami, bus yg kami booking dan naiki ini type Sleeper, jadi nyaman sekali, masuk langsung selonjoran rebahan berbaring tiduran.

29 Sept
Pkl. 05.00 bus sampai di terminal bus Sieam Reap, bersih2 bentar di toilet umum, terminal ini tidak terlalu luas tapi bangunannya tinggi menyerupai gedung pabrik, tidak terlalu ramai ada sekitar 6 bus terparkir di dalam terminal, selesai beres2 dan memenuhi panggilan alam di pagi hari, langsung cari tuk tuk menuju hotel, tariff $3,5, karna kondisi masih pagi kami tidak diperbolehkan check-in, menunggu siang, ada sedikit drama yg membuat kami pusing, hotel yg kami booking lewat pegi-pegi,  Hotel Traveller Home Angkor mengatakan tidak ada pemesanan kamar atas nama kami, kami coba kontak pegi-pegi yg  katanya CS nya 24 jam, tidak ada jawaban, kami sedikit kebingungan sampai niat akan pesan kamar lagi, karna pihak pegi2 tidak ada respon sama sekali, susah sekali untuk dihubungi, tak lama kemudian petugas hotel shift pagi masuk, dan dia kembali memanggil gw untuk mencoba ngecek permasalahan, dia kembali meminta print out kode booking hotel, lumayan lama juga sampai pada akhirnya dia ambil keputusan sepertinya ada 1 kamar telah dibooking 2 malam, sama dengan gw yg booking untuk 2 malam juga,  tapi bukan atas nama gw, lalu  karyawan hotel tersebut berasumsi, mungkin itu adalah kamar yg gw booking, asumsinya hanya berdasarkan tanggal kode booking, anehh kan ..? kok bisa seperti ini ..?? entahlah siapa yg salah pihak hotel atau pihak pegi pegi… terus terang gw agak sedikit kecewa dgn pegi pegi karna slogan CS 24 jam Cuma slogan aja jauh dari kenyataan.

Yg paling ngeselin lagi, stelah gw sampai Indonesia slesai dari trip ini, pihak pegi pegi baru ngehubungin gw. Oallllaaahhhh… keburu di tembak Belanda bos.


Sambil menunggu kami diperbolehkan untuk masuk kamar, kami hanya duduk saja disamping kolam renang, tariff di Hotel Traveller Home Angkor ini untuk kelas Double Bed Rp. 400.000,- per 2 malam,  lumayan murah dengan kondisi interior maupun exterior yg cukup bagus, pihak hotel juga kadang berkali-kali menawarkan kita paket tour untuk explore Angkor Wat, dari brosur yg dia berikan sedikit lebih mahal dibandingkan dengan beberapa referensi yg sudah kami pegang. 


Jam 11 siang kami baru diperbolehkan check-in, setelah sebelumnya pihak hotel mengatakan akan membersihkan dahulu kamar yg akan kami pakai, bersih2 mandi lalu perut keroncongan, akhirnya kembali searching lagi restaurant yg menjual makanan2 halal. Ternyata tempatnya gak jauh dari Hotel kami hanya berjalan kaki sekitar 10 menitan,

Kabarin teman kami Fika dan Yuli yg ternyata hotelnya juga tidak berjauhan dari kami untuk janjian makan siang di Resturan Halal Food, makan di tempat ini seperti di Indonesia, bukan Cuma makanan nya aja yg disajikan mirip dengan masakan Indonesia, tapi lagu yg diputer ini lho Nissa Sabyan… Hahahhahaha..

Makan siang kami $6,25 untuk 2 orang sudah termasuk minum.


Sore hari jalan2 explore Pub Street, cukup jalan kaki dari Hotel, cari oleh2 yg murah2 di sini tempatnya, mulai dari Kain, kaos, baju dan pernak pernik local khas Kamboja,  pub Street ini merupakan pusat keramaian di kota Seam Reap, banyak café dan resto yg tidak terlalu mahal di sepanjang jalan ini. Dengan berbagi masakan yg ditawarkan mulai dari Western Food hingga Local Food khas Khmer, makan malam di sini $9 untuk 2 orang dan juga sudah termasuk minuman yg kami pesan.




Bagi kalian yg ngetrip Kamboja + Thailand sebaiknya beli oleh2 Di Pub street Seam Reap ini, karena barang yg dijual lebih murah ketimbang kita harus beli oleh2 di Thailand, kaos oblong $7 per 3pcs, yg bahannya lebih bagus $3 per pcs, baju + Celana setelan dewasa bergambar Candi Angkor Wat $4, sedangkan setelan untuk balita $3, Magnet untuk tempelan lemari Es $1 per 3pcs, dolar dolar dan dolar, inilah uniknya Kamboja sebuah Negara yg menggunakan 2 mata uang untuk bertransaksinya.




30 September
Pagi dini hari kami harus sudah siap2 untuk explore Angkorwat 1 hari, kemarin kami sudah booking tuk-tuk $15 (Sunrise Angkorwat + keliling2 komplek Candi sampai jam 1 siang), dari biaya itu tinggal kami bagi ber empat, inilah untungnya trip bersama2 segala biaya dapat kita share bersama teman2 seperjalanan untuk menghemat biaya.

Karena kami belum membeli tiket untuk masuk Angkorwat, jadi tuk2 terlebih dahulu mengantarkan kami ke kantor kebudayaan di Seam Reap untuk membeli tiket Sunrise Angkorwat. $37 per orang,    muahaaaaaalll Banget bro n sis.


Di loket tiket ini kita di foto, jadi nanti foto kita tercetak di dalam tiket, uang dolar yg kita bayar harus yg bagus, lecek sedikit mereka gak mau terima, hati2 deh buat lu semua setiap kali sehabis belanja atau dari money changer setiap uang dolar yg kalian terima harus dilihat baik2, karena ini kejadian dengan Fika teman seperjalanan gw, yg punya uang dollar dgn kondisi kurang bagus, sehingga hamper smua tempat menolak menerimanya, sayang kan apalagi klo dollarnya pecahan besar….

Sampai di Komplek Angkor Wat, setiap kali ada petugas kita diminta untuk menunjukkan Tiket, hati2 jangn sampai tiket ini hilang, karena perlu di ketahui jarak dari 1 candi ke candi lain itu berjauhan, jadi setiap kali kita pindah ke candi lain pasti di suruh menunjukan tiket, untuk jaga2 sebaiknya tiket di foto pake Hand Phone, jadi kalo hilang ada filenya di HP. 

Di Komplek candi pertama ini orang2 yg menunggu Sunrise sudah cukup banyak,



Angkor Wat dari Wikipedia: 

Angkor Wat (bahasa Khmerអង្គរវត្ត, "candi kota") adalah sebuah gugus bangunan candi di negara Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas situs seluas 1.626.000 m2 (162,6 hektar atau 402 ekar) ini mula-mula dibangun sebagai candi agama Hindu Kerajaan Khmer yang dibaktikan untuk dewa Wisnu, namun lambat laun berubah menjadi candi agama Buddha menjelang akhir abad ke-12. Angkor Wat dibangun oleh Raja Khmer Suryawarman II pada permulaan abad ke-12 di Yaśodharapura (bahasa Khmerយសោធរបុរៈ, sekarang Angkor), ibu kota Kemaharajaan Khmer, sebagai candi negara sekaligus tempat persemayaman abu jenazahnya. 




Berbeda dari raja-raja pendahulunya yang berbakti kepada dewa Siwa, Raja Suryawarman II justru membangun Angkor Wat untuk dibaktikan kepada dewa Wisnu. Sebagai candi yang paling terawat di kawasan percandian Angkor, Angkor Wat merupakan satu-satunya candi yang masih menjadi pusat keagamaan penting semenjak didirikan. Mahakarya langgam klasik arsitektur Khmer ini telah menjadi salah satu lambang negara Kamboja, ditampilkan pada bendera negara Kamboja, dan menjadi daya tarik wisata utama negara itu.




Angkor Wat memadukan dua rancangan pokok arsitektur candi Khmer, yakni rancangan candi gunungan dan rancangan candi berserambi. Angkor Wat dirancang sebagai lambang Gunung Meru (kahyangan dewa-dewi Hindu) yang dikelilingi tiga undak bangunan serambi persegi panjang, dan masih dipagari lagi dengan tembok luar sepanjang 3,6 km (2,2 mil) berikut sebuah parit sepanjang lebih dari 5 km (3 mil)









Di tengah-tengah gugus bangunan candi ini, menjulang menara-menara yang membentuk tatanan quinquncia (tatanan lima objek yang membentuk lambang tapak dara, salah satunya terletak pada titik persilangan). Berbeda dari kebanyakan candi yang bertebaran di kawasan percandian Angkor, candi ini dibangun menghadap ke arah barat; para peneliti berbeda pendapat sehubungan dengan makna dari perbedaan ini. Angkor Wat dikagumi karena kemegahan dan keselarasan arsitekturnya, luasnya bidang yang dihiasi relief dangkal, dan sekian banyak sosok dewata yang terukir pada tembok-temboknya






Nama modern untuk candi ini, yakni Angkor Wat (aksara Khmer: អង្គរវត្ត) atau Nokor Wat (aksara Khmer: នគរវត្ត) berarti "candi kota" atau "kota candi" dalam bahasa Khmer. Kata "angkor" (aksara Khmer: អង្គរ) adalah bentuk ucapan masyarakat setempat untuk kata "nokor" (aksara Khmer: នគរ), yang berarti "kota" atau "ibu kota" dalam bahasa Khmer. Kata "nokor" berasal dari kata "nagara" (aksara Dewanagari: नगर) yang berarti "kota" dalam bahasa Sanskerta. Kata "wat" (aksara Khmer: វត្ត), yang berarti "lingkungan candi" dalam bahasa Khmer, berasal dari kata "wāṭa" (aksara Dewanagari: वाट) yang berarti "lingkungan" dalam bahasa Sanskerta
Nama asli candi ini adalah Preah Pisnulōk (bahasa Sanskertaवरविष्णुलोकWarawiṣṇuloka) atau Barom Pisnulōk (aksara Khmer: បរមវិស្ណុលោក; bahasa Sanskertaपरमविष्णुलोकParamawiṣṇuloka) yang berarti kahyangan Wisnu.


Catatan penting :

  1. Karna komplek Angkor Wat ini luas, siapkan fisik jadi malamnya jangan begadang,  istirahat dan tidur yg cukup.
  2. Yg gak tahan panas sebaiknya bawa payung atau minimal topi.
  3. Terkadang sewa tuk2 itu dah include air minum kemasan yang disimpen dalam box pakai es batu, namun bagi yg blm include minum sebaiknya bawa dari hotel, karna pasti akan sngat banyk minum, jalan menelusuri candi2 itu cukup melelahkan dan pastinya haus.
  4. Bagi yg gak tahan lapar siapkan cemilan juga, kalo2 lagi asik2 ekplore, eh malah kelaparan.
  5. Tarif tiket berbeda-beda, tergantung dari berapa lamanya kita mengekplore Angkor Wat, ada one day full + Sunrise trip, atau 3 day trip, dan lain-lain. Menurut gw sih one day trip udah cukup, karena kalaupun mo dijelajah semua pasti akan sangat membosankan.
  6. Yg paling penting untuk didatengin adalah Komplek Utama Angkor Wat, Ta Prohm, Bantheay Kdei, Terrace of Elephants, Baphuon, Ta Keo,  dan Bayon,. Memang masih banyak candi2 lain dengan bentuk yg berbeda, jujur aja gw sendiri akhirnya bosen juga. Hehehe..



Lewat Tengah hari kami akhirnya memutuskan untuk mencari tempat makan siang yg halal, di sepanjang perjalanan banyak sekali tukang2 gorengan, tapi sayangnya semuanya rata2 tidak halal, karena minyak gorengnya di pakai juga untuk menggoreng sosis yg berbahan dasar daging babi. Kebetulan supir tuk2 yang kami sewa seorang muslim, jadi pak tuk2 ini selalu memberi tahu kami tentang kehalalan makanan yg akan kami beli.

 


Karna sedikit sulit untuk mendapatkan halal food di resto sekitaran Komplek Angkor Wat, akhirnya kami sepakat untuk kembali ke hotel, dan kembali makan siang di resto halal food, namun kali ini kami memakan di restoran yg berbeda, kebetulan pemiliknya adalah masih saudara dari pemilik tuk2, namanya Pak Nasir, (+85570902910) pak Nasir ini adalah orang asli Kamboja Muslim, yg pernah tinggal dan bekerja di Malaysia, makanya pak nasir dan 3 Saudaranya pandai berbahasa Melayu, mereka banyak sekali mengantarkan para turis dengan tuk2nya, rata2 turis Malaysia, Singapura dan Indonesia.

Cukup bersahabat, ramah dan Gepyak (Bahasa Asli Betawi gw Keluar, wakakak)





Malam hari kembali explore Pub Street & Night Market, Cuma sekedar cari makan dan beli cemilan, di jalan utama Pub Street ini, ada mini market yg luar biasa ramenya, karna males ngantri di kasir yg panjang bngt, akhirnya Cuma beli beberapa cemilan aja, dan pmbayarannya gw titipin aja sam Fika, jalan sedkit menuju hotel, ada mini market 7 Eleven, dan telisik punya telisik ternyata harga di sini jauh lebih murah ketimbang Mini Market di PUB Street tadi, beruntung lah hari ini.



1 Oktober
Karena kemarin dari hasil tanya2 dengan pak Nasir untuk sewa tuk2 dari Hotel menuju Terminal Bus Giant Ibis pak Nasir minta $5, akhirnya coba2 cek harga di Applikasi Grab, ternyata hanya $3, memang sih sedikit takut karna kami harus berangkat pagi sekali (jam jam sibuk) takutnya tidak kebagian Grab, tapi pihak hotel meyakin kami bahwa di pagi hari pun banyak Grab bajay yg beroperasi. Ternyata benar sekali ketakutan kami tidak terbukti, hanya butuh 3 menit kami langsung mendapatkan Grab berupa bajay, yg langsung mengantarkan kami ke Terminal.



Suasana terminal masih sangat sepi, menjelang jam keberangkatan teman ku Fika belum juga datang, ternyata dia sedang menunggu jemputan di Hotel dari Pihak Giant Ibis.


Setelah tanya2 ke petugas di dalm kantor Giant Ibis, katanya jemputan sedang dalam perjalanan menuju hotel, dan dia minta agar teman saya tetap menunggu di Hotel.

Ada yg unik dari bus ini, posisi supir/kemudi ada diseblah kanan, sedangkan arah lalu lintas system yg dipakai adalah arah sebelah kanan, harusnya posisi supir ada disebelah kiri, namun ketika masuk Thailand system lalu lintas yg dipakai sama seperti di Indonesia yakni sebelah kiri, hahaha…

Kebayang gak kalo jadi supirnya, di Kamboja berlaku lajur sebelah kanan sedangkan Thailand berlaku lajur sbelah kiri. Gak kikuk yah mereka mengendalikan mobilnya. Hebat hebat hebat….

Perjalanan dari Sieam Reap menuju Bangkok by Giant Ibis Bus (RP. 433.000,-) lumayan lama, Start dari Sieam Reap Pkl. 08.30 Pagi, pak kondektur memberikan Form Imigrasi Thailand untuk di isi.


Sampai di Border Kamboja-Thailand (pkl. 11.00) ada yg unik di sini, di Imigrasi Poipet Kamboja, kita tidak setor muka, di dalam Bus, Paspor kita dikumpulkan oleh Kondektur, lalu mas mas kondektur inilah yang mengurus keimigrasian kita di Imigrasi Poipet Kamboja, memang sih dari banyak cerita di beberapa blog, kadang kita dimintai $5 untuk pengurusan imigrasi di Poipet Kamboja ini, dan seprtinya tariff bus yg diberlakukan sudah include dengan Pungli $5 ini. Hahahaha.. kayak di negri +62 aja dah.

Antrian di Imigrasi Aranyprathet Thailand cukup panjang berliku-liku seperti ular melingkar, di sini saja gw harus berdiri hampir 2 jam, mengantri dalam ruangan yg pendinginnya hanya dengan kipas angin aja bukan pendingin AC, ampun dah.

Ada sdikit drama di Imigrasi ini, mungkin karna lihat paspor Hijau Indonesia gw gak bisa langsung lolos untuk masuk Thailand, gw dibawa ke salah satu sudut ruangan dan diberikan kepada petugas lain yg sepertinya memang bertugas secara khusus, ada sedikit Interograsi dari petugas ini,  tentang keprluan gw masuk Thailand, semua di Tanya, mulai tujuan nya apa? Berap lama? Stay di Mana? Pake Agen Tour Gak? dll.

Semua itu harus kita jawab dengan jujur, jangan grogi dan harus ada pembuktiannya, untungnya semua udah gw persiapkan dari Indonesia, mulai dari Bookingan Hotel di Khaosan Road, Flight Bangkok to Phuket, Hotel di Phuket, dan yg terpenting Return Ticket to Jakarta, semua sudah di print out secara lengkap.

Petugas Imigrasi ini lalu memasukan data ke Komputernya, tgl 2, 3, dan 4  Oktober kami di Hotel mana? Dan hasil print out kode Booking Hotel serta Kode Booking Pswat di minta oleh mereka sebagai pegangan mereka.

kebetulan di ruang ini juga, ada 1 orang cowok dari Indonesia juga,  yg baru kami kenal di Kantor Imigrasi ini, gw lihat dia sangat gugup menjawab pertanyaan2 entah memang cara/logat berbicara orang tersebut yg terlihat seperti orang gugup, parahnya lagi dia ini blm booking hotel, akhirnya sedikit kesulitan untuk lolos imigrasi Thailand, karna gw sedikit khawatir dengan Bus gw yg akan kembali membawa ke Khaosan Road Bangkok,  takut lama menunggu si mas mas ini gw tinggal, dan kebetulan memang karna kami pun tidak 1 bus dengan dia.

Benar saja keluar dari kantor Imigrasi sang kondektur sudah cemas menunggu, lalu dia menunjukan posisi bus terparkir, kami langsung menuju bus tersebut dan langsung diberikan jatah makan siang, perjalanan menuju kota Bangkok macet, akhirnya pkl. 19.00 kami baru sampai Khaosan Road.

Bersambung…………