Mengunjungimu
seperti berjumpa Tuhan
Kemiskinanmu mengajarkan-ku tuk bersyukur
Kebodohanmu mengajarkan-ku tuk berbagi ilmu
Keluguanmu mengajarkan-ku tuk tak menipu
Kecemasanmu mengajarkan-ku tuk bertindak
dan
keterbelakangan kalian mengajarkan-ku
tuk memanusiakan manusia
setelah sekian lama keinginan untuk menginjakan kaki di
tanah NTT, akhirnya Agustus 2018 ini aku dapat mewujudkannya, rasa penasaranku
begitu besar untuk lebih ingin mengetahui potret kehidupan masyarakat di salah
satu provinsi miskin dan terbelakang di Indonesia ini secara langsung.
Berbeda dengan istriku yang pernah terjun langsung ke Kupang
dan menyaksikan langsung tentang kepincangan pembangunan di sana dibandingkan
dengan kita di Pulau Jawa, sementara aku hanya mengetahui tentang ketimpangan Wilayah Indonesia Timur,
dari chat group Whatsapp saja, cerita istri dan tulisan dari WA itu membuatku
semakin menggebu untuk mengunjungi NTT.
Dimulai dengan problem “Kasta
Hamba”, ada manusia yang mau dikubur hidup2 untuk menemani sang majikan
yang mati, Perbudakan Kain Tenun, anak
sekolah yang harus berjalan 1 jam bahkan lebih menuju sekolah, Perdagangan Manusia,
standarisasi pendidikan nasional yang sangat tidak mungkin untuk diterapkan, infrastruktur
yang sangat tidak mendukung, sampai dengan anak sekolah yang tidak pernah
menulis bukan karena malas tapi karena memang tidak punya buku tulis, dan
banyak cerita lain yang memilukan.
Dari Jakarta tidak ada penerbangan direct menuju Sumba, jadi
harus transit di Bali, baru terbang lagi menuju Tambolaka Sumba Barat, mendarat
di Bandara yang sangat sederhana ini sudah sangat terlihat jelas
kepincangannya, aku lebih mengibaratkan Bandara ini seperti kantor Kecamatan,
padahal bandara ini belum lama di pugar dan diperluas, bisa dibayangkan di
waktu sebelumnya yang katanya pagar pembatasnya saja terbuat dari pagar bambu.
Ketika turun dari pesawat ada touris asing yang sedang nge-Vlog, aku
mendengarkan beberapa kali dia salah menyebut Tambolaka menjadi Tambokala,
Sudah beberapa kali saya koreksi, tetap saja dia salah
menyebutnya..
Ada juga bule yang bingung ketika sinyal HPnya tidak ada,
perlu diketahui bahwa di Sumba ini hanya sinyal Telkomsel saja yang mampu untuk
diandalkan, sedangkan operator lain sepertinya tidak layak untuk dipakai di
daerah ini.
Transfortasi umum sangat sulit untuk di dapatkan di daerah
ini, alternative lain adalah Charter mobil, apalagi perjalanan kami ini adalah
perjalanan panjang, dari Sumba Barat menuju Sumba Barat Daya lalu menuju Sumba
Timur, lalu dari Bandara Umbu Mehang Kunda – Waingapu-Sumba Timur inilah
terbang kembali Ke Ngurah Rai Bali
lanjut ke Jakarta.
Potensi wisata di Pulau Sumba NTT ini sebenarnya cukup
bagus, ada begitu banyak tempat wisata dimulai dari wisata budaya/wisata adat,
dan wisata alam, permasalahannya adalah infrastruktur jalan menuju lokasi yang
kurang memadai, dan sulit untuk di jangkau dengan kendaraan umum, jika dikelola
secara benar dan sarana2 pendukung lainnya yang memadai bukan tidak mungkin
Sumba ini akan seperti Bali, sehingga sektor
wisata ini dapat meningkatkan pendapatan daerah dan mungkin akan membawa
kesejahteraan masyarakat NTT, lalu dapat menyelesaikan permasalahan kemiskinan
yang menimpa.
Wisata Pantai Kawona, Pantai Kita, Danau Wekuri, Pantai
Mandorak, Pantai Mbawana, Rumah adat Ranteggaro, Air Terjun Lampopu, Kampung
Adat Praijing, Air Terjun Tanggedu, Bukit Warinding, dan pantai Walakiri,
adalah beberapa tempat yang menurut saya cukup bagus, dan layak untuk di jual
kepada wisatawan.
Patut diakui dengan SDM rendah, sulit rasanya untuk menggapai
sebuah cita2 yang tinggi, sepertinya pembangunan SDM sangat diperlukan untuk
mempersiapkan manusia-manusianya sehingga mampu mengelola dan mengembangkan
sector wisata menjadi sector andalan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat.
Ada permasalahan menarik yang saya temui sendiri di lapangan, ketika berkunjung ke
Rumah Adat Praijing, dimana ada beberapa rumah adat sedang dibangun, dimana
tiang penyangga atap tidak lagi terbuat dari kayu/pohon, melainkan dari
kontruksi coran semen dan baja, sehingga keeksotisan rumah adat tersebut
menjadi hilang, setelah mencari tahu, ternyata jika menggunakan kayu pohon,
biayanya sangat besar, dimulai dari upacara adat penebangan kayu, pemrosesan
sampai tahap penggunaan pada bangunan, bisa ratusan juta biaya yang harus
dikeluarkan. Di sisi lain jika rumah
adat yang menjadi potensi wisata dibuat dengan teknologi modern akan
menghilangkan nilai keasliannya, tapi dengan biaya sebesar itu cukup sulit
rasanya untuk di penuhi oleh pemilik rumah.
Permasalahan di atas sama saja dengan permasalahan yang
dihadapi oleh Tuan Jerry sang supir kami, sampai saat ini sudah memiliki 2
orang anak, rumah tangganya tidak diakui secara adat, karena dia belum mampu
memenuhi syarat perkawinan secara adat yakni 100 ekor kerbau, karena memang
kebetulan sang istri masih merupakan keturunan raja, jadi syarat pernikahannya
sangat mewah.
Di sudut lain di sekitar air terjun Tanggedu, ada sedikit
obrolan dengan penduduk local yang berjualan kelapa muda sambil terima antar
jemput ojek, beliau mengungkapkan
kegembiraanya karena sudah sekian lama hampir seumur hidupnya baru mulai ada
pembangunan jalan menuju desanya, sudah mulai banyak perubahan ungkapnya, kalau
dahulu mereka membeli bensin eceran Rp. 20.000,- per liter sekarang Rp.10.000,-
per liternya, ada sedikit pembangunan infrastruktur, dahulu untuk menjual hasil panen mereka harus
berjalan kaki 12 jam, pergi di pagi hari dan sampai pasar di sore hari, lalu
mereka menginap di pasar esok pagi baru melakukan transaksi jual beli.
Saya sendiri untuk menuju lokasi ini, harus menggunakan ojek
dengan tarif yang lumayan mahal, yakni sebesar Rp. 150.000,- karena akses kendaraan roda empat masih dalam proses pengerjaan.
Jika berbicara pendidikan, seperti langit dan bumi jika
dibandingkan dengan Pulau Jawa mungkin, karena cukup sedih melihatnya, belum
lagi jika berbicara subsidi, ketika kita masyarakat P.Jawa ramai2 memprotes
kebijakan pencabutan Subsidi, di tempat lain ada masyarakat yang sama sekali
tidak menikmati subsidi baik listrik ataupun BBM sudah puluhan tahun.
Sepertinya Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia, masih terus menjadi PR besar untuk para pemimpin negeri ini.
Semoga kepincangan ini tidak berkelanjutan…
Semoga kepincangan ini tidak berkelanjutan…
Aamiin
Lewati Savana dan mendaki bukit untuk pergi ke Sekolah.
Anak2 Hebat....!
















