4 Kota 2 Negara
Kamboja (Phnom pen + Sieam Reap)Thailand (Bangkok + Phuket)
1 Oktober
Turun dari Bus
kami langsung menuju perempatan jalan Khaosan Road buat beli SIM Card di 7
eleven, Karna butuh koneksi internet
untuk mencari posisi hotel yg sudah kami booking, SIM Card. 300 baht 8 Day
Pass.
Kita diminta
menyerahkan foto copy paspor, dan juga kami di foto oleh pelayan 7 eleven,
Negara orang sudah sampai sebegitu ketatnya yah..?
Klo di Indonesia
baru di suruh ngisi No. NIK sama No. Kartu Kleuarga aja rusuh…
Inilah, itu
lah…. … kita ini memang terlampau mudah
buat di komporin sama jargon2 politik.
Makan malam
cukup beli mie aja, karna udah males, pengen buru2 rebahan di Hotel,
hotel yg kami booking adalah Sloth Hostel Khaosan Rp. 282.000,- include sarapan
pagi, bikin sendiri kopi/susu/teh + roti
tawar.
2 Oktober
Sarapan pagi
gratis, isi botol air minum, trik hemat travelling Ala Backpacker, Karna nanti
sore gw akan melanjutkan penerbangan menuju Phuket. Pagi ini gw langsung Check-Out dari Hotel,
sedikit repot sih keliling Bangkok dengan membawa banyak tas.
Tempat yg mo gw
kunjungin di Bangkok ini Wat Pho, Wat Arun, Madam Tussaud, Wat Chana Songkram,
Grand Palace, tapi akhirnya banyak yg di Cancel, karena terbatasnya waktu, akhirnya Cuma Wat Pho dan Wat Arun saja.
Dari hotel gw
jalan kaki 8 menitan menuju Phra Arthit Express Boat Pier, sampai lokasi lalu tanya petugas
dermaga bagaimana cara menuju Wat Arun, dan petugas dermaga menyuruh kami untuk
menunggu. Di sini kita tidak usah membeli tiket boat, jadi nanti dibayar
langsung di atas boat 15 Baht.
Sungai Chao Praya yg besar di
kota Bangkok ini dimanfaatkan oleh pemerintahnya sebagai alat trasportasi, ada
banyak sekali lalu lalang kapal yg mengangkut penumpang.
Perjalanan
menuju Wat Arun tidak terlalu lama, entah berapa kali berhenti di beberapa dermaga,
kadang di dermaga sebalah kiri sungai dan kadang di dermaga sebelah kanan
sungai, lama perhentian di setiap dermaga tidak lama mungkin hanya 1 menitan,
jadi bagi para penumpang yg akan turun harus sudah siap2 menuju bagian belakang
boat.
Tiket masuk Wat
Arun 50 Baht, syangnya saat gw datang sebagian bangunan Wat Arun sedang ada
renovasi, jadi agak sedikit kurang bagus buat diambil gambarnya.
Menurut
Wikipedia Wat Arun :
Wat Arun (bahasa Thai: วัดอรุณ, Candi Fajar) adalah candi Buddha (wat) yang terletak di distrik Bangkok Yai di Bangkok, Thailand, tepatnya di barat hulu sungai Chao Phraya. Nama panjang dari candi ini adalah Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara (วัดอรุณราชวรารามราชวรมหาวิหาร). Wat Arun Rajwararam atau Candi Fajar, diambil dari nama Dewa Fajar, Aruna. Wat Arun dianggap salah satu situs yang paling terkenal di Thailand.
Ketika di dalam
kompleks Wat Arun ini, gw bertemu dengan rombongan turis dari Indonesia, cukup
banyak sekali mungkin sekitar 50 an Orang, umumnya di dominasi oleh ibu-ibu,
dan sepertinya memakai jasa Tour dari Indonesia itu bisa dilihat dari tour
Guide nya yg berbahasa Indonesia.
Kalo jadi Tour
Guide tapi tournya ala Backpacker kira2 bisa gak yah..?
Banyak
peminatnya gak yah?
Otak Bisnis ku
jalan… wakakakak.
Berwisata dengan
Agen tour memang enak, kita tinggal jalan gak usah mikir, tanya ini Tanya itu,
bangun tidur sarapan sudah disiapkan, kesana kemari di anterin pake mobil
travel.
Buat sebagian orang, It’s OK,
tapi buat gw pribadi kurang ada seninya.
Travelling ala
backpacker adalah mencoba keluar dari Zona aman, kita akan sangat merasakan
artinya sebuah perjalanan.
Bagaimana
melatih otak kita untuk memanagement perjalanan kita, melihat kehidupan social
masyarakat, berbaur dengan kebudayaan dan karakter warga local, dan yg
terpenting berusaha untuk memecahkan berbagai masalah ketika kita mendapatkan
masalah selama di perjalanan yg tidak sesuai dengan itinerary kita.
Puas menjelajahi
Wat Arun lalu jalan kaki menuju dermaga Kapal Ferry untuk menyebrangi sungai
menuju Thien tien Pier beli tiket di loket tariffnya 2 Baht, dari Thien tien
Pier ini jalan kaki lagi menuju Wat Pho.
Nyebrang jalan besar
serasa kayak di sirkuit Moto GP, motor ber CC besar yg biasa dipake balapan di
Moto GP, lagi di gerung gerungin suaranya berisik, ternyata lagi ada shooting entah
untuk apa? Sepertinya untuk iklan.
Masuk Wat Pho
beli tiket di loket, anjrit harga tiketnya 2 x lipat, sekarang 200 Baht dan
mulai berlaku sejak seminggu yang lalu, leher gondokan, pala cenat cenut, kaki
gemeteran, Kecapean jalan karna panas, bukan karna harga tiket yah, hahahahaha…
menurut Wikipedia :
Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan (bahasa Thai: วัดพระเชตุพนวิมลมังคลารามราชวรมหาวิหาร), atau dulu dikenal Wat Pho (bahasa Thai: วัดโพธิ์), juga dikenal Candi berbaring Buddha, adalah Candi Buddha Distrik Phra Nakhon, Bangkok, Thailand, terletak di distrik Rattanakosin secara langsung berdekatan Istana Raja. Candi ini mempunyai nama resmi Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn (Thai: วัดพระเชตุพนวิมลมังคลาราม ราชวรมหาวิหาร). Wat Pho juga dikenal tempat lahirnya Pijat Thai tradisional.
foto Telapak Kaki Budha
Hari sudah
semakin siang, panas semakin menyengat, nanti sore kami akan terbang lagi dari
Don Mueng menuju Phuket, sebenarnya dari Kota Bangkok ini menuju Phuket bisa
melalui jalur darat baik Bus ataupun Kereta, karna perjalanan darat memakan
waktu yg lama, Waktu liburan yg terbatas dan juga harga tiket pesawat dari
Bangkok menuju Phuket hanya 300an ribu, maka jalur udara adalah pilhan yg
bagus.
Teringat dengan
kemacetan lalu lintas kemarin, maka kami memutuskan menggunakan Grab Car dari
Wat Pho ini untuk menuju Don Muang Airport, memang biaya yg kami keluarkan
lebih mahal, tetapi sepertinya ini pilhan bagus, dibandingkan semua Itinerary
menjadi kacau karena terlambat datang ke Air port lalu ketinggalan pesawat. 550
Baht + bayar tol 125 Baht.
Makan siang di
Halal Food Restaurant Air Port 225 Baht
untuk 2 orang, menunya lumayan enak, tak lama kemudian Check-in penerbangan
menuju Phuket dengan Nok Air di buka. Kebayang kalo pake Public Bus trus lalu
lintasnya macet menjelang menit2 keberangkatan masih di dalam Bus, jarak tempuh
ke Air Port masih jauh, Oa Allah…. Bisa kencing di celana, yg ada beli tiket
lagi untuk penerbangan sekarang, tentunya harus di beli dengan harga bengkak….
Gak kebayang deh….! Niatnya Travelling dengan cara Backpacker dengan slogan sehemat
mungkin eh malah bengkak gak karuan.
kondisi lalu lintas yg padat
Dari sisi ini
saja, ada pelajaran yg dapat kita ambil, Travelling ala Backpacker mengajarakan
kita bagaimana cara mengambil keputusan yg tepat, kebayang kan kalo kita sering
melakukan perjalanan di beberapa destinasi lain, hal hal seprti ini pasti akan
kita temui lagi, dan tentunya itu akan melatih kita bagimana kita dalam
menentukan pilihan atau mengambil keputusan, So pasti akan sangat bermanfaat
jika kita gunakan di dalm dunia kerja.
Tiba di Phuket Air
Port, langsung bergegas ke pintu keluar untuk cari mini bus yang akan antar
kita ke Patong (Salah satu daerah di Phuket), sebenarnya ketika masih di dalam
area Gedung air port sudah banyak sekali yg menawarkan jasa transportasi menuju
Phuket, karna gw lihat bnayk orang dalam 1 pesawat tak ada yg berhenti untuk
membeli, akhirnya gw memutuskan untuk tidak membeli juga, sambil cross check
harga sih itu tujuan utamanya.
Setelah keluar
gedung ada bnayak sekali Counter Loket penjulan tiket jasa transportasi menuju
Phuket : Town 150 Baht, Patong 180 Baht, Kata 200 Baht, dan Karon 200 Baht.
Sepertinya dari
semua loket bus bertarif sama, yg anehnya dari semua penumpang yg ada dalm Mini
Bus, kami berbeda-beda tempat dalam pembelian tiketnya, dan itu bisa dilihat
dari lembar tiketnya yg berbeda warna & logo agen jasa transportasinya,
tetapi kami dalam satu mini Bus.
Mungkin mereka
hanya menjual tiket saja dan selanjutnya para pemilik kendaraan akan mendapat
bayaran berdasarkan dri jumlah lembaran tiket penumpang yg mereka ambil dari
para penumpang yg diangkut. 360 Baht kami
bayar untuk berdua dengan tujuan Patong, karna memang hotel yg telah kami
Booking Hip Hotel berada di daerah Patong. Penumpang dalam satu Mini Bus ini
berbeda tujuan, lalu pak supir akan mendata seluruh hotel yg akan dituju dari
masing2 penumpang, karna mini Bus ini akan mengantarkan kita ke setiap hotel
masing2, artinya tidak semua penumpang diturunkan pada satu tempat.
Sebelum mencapai
lokasi tujuan kami diturunkan disebuah agen tour, lalu kami disuruh turun untuk
masuk ke dalam kantor Agen Tour, pihak agen tour ternyata sudah bekerjasama
dengan para pemilik mobil, ada banyak brosur yg ditawarkan, paket nya macem2
mulai dari phi phi Island sampai dengan wisata kota Phuket, harga nya ampun dah
ada yg sampai 2x harga normal, wakakakak..
Gw pun
menolaknya, kebetulan gw sudah tahu berapa tariff yg harus gw bayar untuk phi
phi island, harga dari Agen tour ini kebilang kelewatan, memang sih di akhir
obrolan mereka memberikan discount tapi tetap saja masih jauh dari harga yg gw
tahu.
Gak lama
berselang ada mobil taksi datang, penumpangnya juga di suruh turun oleh supir
taxi untuk masuk ke agen tour tersebut, si penumpang menolak, tetap saja di
suruh untuk turun, terlihat sedikit perdebatan antara supir dan penumpang, si
penumpang merasa tempat ini bukan tujuan yg dia tuju kenapa harus turun?, lalu
beberapa orang dari agen tour datang dan memaksa si penumpang untuk turun,
entah seperti apa kelanjutannya, karna mini bus yg gw naikin bergegas berngkat
menuju Patong.
Para Backpacker
memang dituntut untuk siap menghadapi kondisi seperti ini, Scam di setiap
daerah wisata itu pasti ada, bahkan pencurian barang2 berharga kita yg kita tinggalkan
di kamar hotel itu banyak terjadi, pencurian kendaraan yg kita rental dari
mereka dgn memakai kunci duplikat, tariff yg berlaku tidak sewajarnya, semua
harus sudah kita antisipasi sebelum kita melakukan travelling.
“Hip Hotel”,
teriak pak Supir, rupanya Hotel kelas Backpacker yg kami booking posisinya di
dalam Gang kecil, sehingga mini bus ini tidak masuk ke dalam, hanya mampu
mengantarkan kami di muka gang. Pintu belakang mini bus dibuka, tas gw
posisinya ada di paling bawah, hemmmmm.
Gak jauh posisi
hotel dari muka Gang, Jalan kaki 100 meter, sampai di hotel, tempatnya bagus
juga gak terlalu ramai, artinya gak bising cocok buat pacaran sama bini,
wakakakk.
Hip Hotel ini gw
referensiin deh buat kali yg ingin berlibur ke Phuket, gak mahal, gak bising,
resepsionis nya ramah, dan dia mampu berbicara bahasa Inggris dan Melayu.
“Where are you
from ?” , Indonesia.
Indonesia..? Yes
Mam.
Boleh lah kita sikit
cakap Melayu..? wakakakak..
Ternyata si ibu
pernah jadi TKW di Malaysia, 6 tahun lamanya, dan rindu akan berbicara dengan bahasa
Melayu katanya. Jujur dari hati gw, asli si Ibu ini ramah sekali. Si Ibu mengantarkan kami ke lantai 2 kamar yg
telah kami pesan, mandi sebentar lalu baru inget kalo kami belum membeli paket
tour ke Phi phi Island, dengan melihat karakter si ibu yg ramah itu akhirnya gw
turun ke bawah menanyakan tentang paket tour ke Phi Phi Island. Dia menunjukan
tumpukan brosur yg ada di atas meja. Sambil mengatakan,
"buat awak nanti ada
diskon besar".
Ada dua pilihan
yg menarik :
- Paket James
Bond, 4 Island 3 Canoe (James Bond, Panak, Hong, Lana) price 3.200 Baht di
Brosur.
- Paket Phi phi, 4
Island 9 poinjt (phi phi lay, Maya Bay, Pileh Lagoon, Lhosama Bay, Viking’s
Cave and Monkey Beach, Phi phi Don, Khai Island) 2 x Snorkeling. 2.800 Baht di
Brosur.
Pilihan kami
jatuh pada nomer 2, tapi saya katakan This is Very Expensive,
Si ibu bilang
buat awak ada diskon, jadi hanya 1.300 Baht saja.
"Anjritttttttttt lebih dari
setengahnya",
buat kalian2 yg akan berlibur ke Phuket klo mo nawar2 harga paket
tour, tawar lah serendah rendahnya, karena brosur2 yg mereka cetak itu harganya
sungguh kelewatan.
Akhirnya si ibu
telpon pihak penyelanggara tour, dan katanya masih ada 4 slot yg kosong untuk
esok hari, kami langsung book paket tour tersebut untuk esok hari, agar lusa
kami sedikit santai di Phuket sebelum akhirnya terbang menuju singapur dan
lanjut ke Jakarta.
Si ibu bertanya
mau dibayar sekarang di sini atau nanti di sana saja di lokasi dermaga,
akhirnya gw memilih bayar cash langsung di sini karena percaya dengan sikap
keramahan si ibu. Tapi tetap saja gw harus minta bukti pembayarannya.
3 Oktober
Pagi sekali dah bangun, bikin kopi ambil
air panas gratis yg udah disiapin pihak hotel di lantai bawah, lalu jalan2
keluar ke arah jalan utama cari tukang makanan buat sarapan pagi, buat kalian
yg muslim jangan takut kesulitan untuk mendapatkan makanan halal di sini,
Phuket rata2 penduduknya muslim, jadi cari makanan halal bukanlah hal yg susah.
Bahkan ketika kalian tiba di Phuket Airport
banyak sekali petugas2 Airport yg berjilbab, jadi memang seperti berada di
daerah pulau jawa saja. Gak berasa luar negeri nya.
Sarapan pagi beli macem2 gorengan ada
lontong juga dengan isi mie, gw Tanya How Much ? si bapak jawab pake bahasa
Thai, nah lho..?
Dia pergi panggilin perempuan minta di
translate in, dan perempuan itu bilang kirain gw ini bukan turis, tapi orang asli
thai karena muka nya sama dengan masyarakat Phuket.
Oa Allah Non, pliss deh ah gw ini turis,
masa sih gak meyakinkan lo, gimana sih gw juga sama dong kaya bule bule itu
pengen di anggap dan diberikan sertifikat berstampel kalo gw itu turis.
Hahahaha..
Yg paling parah selain gw dianggap bukan
turis, nih cewek ternyata propesinya pekerja sex komersil,
“ Do you want massage.?” No.no Thank,
“please Massage with me, No no thank you.
"You can massage with plus plus"
“Where are you stay? Hip Hostel.
"Yes, I Know,...
“Which room?, gw diem bae ora mao jawab,
" Room number, room number, room number" sambil jalan terus ngikutin gw,
Ya Ampun nih cewek, blm tau dia, kalo di
kamar gw ada singa, habis lu di cakar cakar bini gw,
blm lihat aja lu lengen
bini gw, mati lu di smack down. Hahahaha.
Ada beberapa pria di sebrang jalan yg
bersorak sorai, ngelihat kelakuan nih perempuan yg terus menggoda ngikutin jalan gw, hemmmmmm.
Dalem
hati seandainya bini gw kgak ngikut trip ini, ..wakakakak.
Pelajaran pagi ini dari sebuah perjalanan, ternyata prostitusi itu
berlaku dimana saja, Phuket yg rata2 muslim tetap saja praktek prostitusi itu
ada, jadi inget dengan Cianjur, prostitusi berkedok kawin kontrak yg rata2
pelanggan nya pria pria dari timur tengah, sampai detik ini tetap jalan dan
sulit untuk dihilangkan.
Mungkin itulah efek negatif dari pengembangan kota2
wisata di beberapa Negara, ketika daerah tersebut tidak siap maka efek
negatifnya muncul, dibutuhkan banyak strategi untuk meminimalisir efek2 negatifnya, jadi tidak hanya terpaku kepada besarnya nilai peningkatan pendapatan masyarakatnya.
Di lobi hotel resah juga menunggu jemputan
dari pihak agen tour, katanya jam 7 tapi ini sudah jam 8 blm juga datang. Tak
lama petugas hotel datang dan ternyata orang yg berbeda, dan gw tanyakan hal
tersebut kepada dia, lalu dia telpon pihak agen tour, dan sdang dijalan katanya
menuju ke sini.
15 menitan si bapak penjemput datang,
mobilnya menunggu di depan gang. Ya Ampun kirain gw bakal dijemput pake mini
bus, trus digabung bersama peserta lain, karna memang seperti itu yg gw tahu dari
hasil baca dibeberapa blog, eh malah di
jemput pake sedan pribadi, yg isinya Cuma gw dan bini gw. VIP bngt yah…??
30 mnitan sampai di dermaga keberangkatan,
Chean Vanich Pier namanya, di sini ada banyak agen tour menuju pulau phi phi,
agen tour kami adalah Nutticha Marine Co.,LTD, di sini kita registrasi ulang,
hanya tanda tangan saja dan diminta untuk menulis nama hotel tempat tinggal. Mr
Peter menyuruh saya untuk mengambil sarapan pagi yg telah disedikan di sudut
gedung, satu persatu peserta tour berdatangan, setelah semua kumpul, barulah Mr
Peter mejelaskan semua tentang isi paket tour, mulai dari titik keberangkatan,
makan siang, jam keberangkatn pulang, hingga prosedur keselamatan dan tata cara
menggunakan pelampung serta alat2 snorekling.
Semua Ok, lalu kami diberikan gelang,
gelang ini ada nomer telponnya, jangan sampai lepas apalagi hilang, gelang ini
berguna sekali ketika kemungkinan terburuk terjadi sperti kecelakaan atau
hilang terseret ombak, jadi cukup mudah jika ingin mengkontak pihak agen tour.
Jadi
teg teg an jantung gw…. Masalahnya gw kagak bisa berenang.
Untungnya Mr Peter meyakinkan bagi peserta
yg tidak bisa berenang pasti akan dibimbing untuk mencoba snorkeling.
Sebelum menaiki Speed Boat, kami terlebih
dahulu di foto bersama masing2 keluarganya atau groupnya.
Speed boat perlahan
meninggalakan dermaga, tujuan pertama kami adalah Maiton Island for Snorkeling.
1 jam snorkeling di sini, sebenarnya masih
blm puas sih, menurut bini gw yg pernah ke Raja Ampat - Papua , gak ada
apa-apanya, masih kalah jauh di banding Raja Ampat. Koral nya, ikan ikannya,
pokoknya Raja Ampat lebih cuaaantik.
Perjalanan selanjutnya adalah hanya Sightseeing
at phi phi Lay, Maya bay, Pileh Lagoon, Lohsama Bay, Vicking’s Cave dan Monkey
Beach. Hanya lihat-lihat saja sayang bangat sih, gak bisa turun atau snorkeling
di sini, jadi sejak 2 tahun yg lalu daerah ini sedang ada proses rehabilitasi/konservasi
jadi seluruh turis di larang untuk berenang/snorkeling dan kapal2 pun dilarang
berlabuh di pantai, karena banyak sekali ditemukan kerusakan pada karang/koral
di sekitar tempat ini, padahal tadinya pengen bergaya ala Leonardo De Caprio
dalam Film Beach gitu, apalah daya….
Perjalanan selanjutnya adlah Phi Phi Don, makan
siang di sini, masakannya sangat uenak uenak uenak, sampai kepikiran cari orang sini buat di
pekerjakan di Indonesia buat buka rumah makan, makanan yg disajikan model
prasmanan, jadi paket tour ini dah
include makan siang, makan sepuasnya sampe kenyang, pemilik rumah makan yg
beragama muslim ini melarang kepada setiap pengunjung untuk meminum minuman yg
beralkohol di resto nya.
Sebagian peserta tour ada yg ingin naik ke
atas bukit berjalan lumayan jauh dan menanjak ke Phi phi don View point, di atas
bukit ini lah kita dapat menikmati
keindahan pantai phi phi dari ketinggian.
Turun dari view point kami mencoba berbelok
ke arah kanan, tidak langsung menuju arah speed boat, ternyata di sini ada
pantai lagi yg relative sepi. Dan posisi pantai berbeda dengan perairan tempat
Boat bersandar, istilahnya posisinya berada di bagian lain dari pulau phi phi
ini.
Waktu keberangkatan pulang sudah dekat,
kami harus segera menuju kapal. Takut nanti dimarahi sama Mr Peter, bagi yg
ingin stay di Phi phi Island ini, bisa saja menggunakan angkutan public yakni
naik kapal ferry, entah berapa tarifnya, mungkin suatu saat nanti boleh di
coba.
Destinasi selanjutnya dan terakhir adalah
Khai Island, speed boat di pacu dengan kecepatan tinggi terkadang semburan
ombak masuk ke dalam boat, semua penumpang teriak histeris karena basah,
sesekali kecepatan boat dikurangi karena semakin tak terkendali untuk
dikemudikan, kalo tetap dipaksa dengan kecepatan tinggi pasti akan terbalik. Jujur aja gw sedikit takut dengan kondisi
seperti ini, akhirnya memutuskan untuk memakai jaket pelampung, karna jika
terjadi kemungkinan terburuk setidaknya gw akan ngambang di atas permukaan air
laut.
Tiba di Khai Island, kita diminta untuk
memebrikan sumbangan ala kadarnya, karena di sini dibuat jembatan dermaga dari
bahan pvc, yg tujuannya memudahkan para turis turun dari boat menuju pantai,
aktifitas di sini bebas aja, ada yg belanja, foto2 ada juga yg snorkeling,
ikan2 warna warni di khai island ini cukup beragam, memang sih koralnya kurang
bagus.
Perjalanan selanjutnya perjalanan pulang
menuju Chean Vanich Pier, titik awal keberangkatan, di sini kami diberikan
hidangan penutup berupa buah-buahan, dari semangka melon hingga minuman dingin,
lumayan banyak juga yg diberikannya, bahkan kami sampai berkali-kali
memakannya, ketika posisi sudah dekat dengan dermaga kami diminta untuk
mengembalikan alat2 snorkeling, semua di cek berdasarkan nomer, jadi di alat
snorkeling itu sudah ada nomer2 nya dan dicatat siapa pemakainya. Jika ada nomer yg hilang maka ada penalty
tentunya harus mengganti.
Mr.Peter kembali berorasi di dalm boat,
kami diminta untuk memberikan tips bagi kru kapal, seikhlasnya dan seridonya,
dan sebanyak-banyknya… wakakakak..
Sampai dermaga, kami dipersilahkan untuk
melihat foto yg sudah terpasang bersama bingkainya ada ornament khas dan
tulisan phi phi island, foto ini adalah foto yg diambil ketika berangkat tadi,
kirain gratis gak taunya suruh bayar, kata kalkulator gw mahal, akhirnya gak
jadi beli deh.
Satu satu kami di panggil, dan
diperintahkan untuk menuju mobil mini bus yg telah diberikan nomer, kita
tinggal duduk manis dalm mobil tersebut dan lalu diantarkan menuju hotel kita
masing-masing.
Selsai bersih-bersih di hotel, gw dan istri
sightseeing kota Patong, cari makan malam rada repot juga, semua tempat makan
penuh, Cuma resto khas India aja yg rada kosong, warteg dan masakan Padang kgak
ada, jadi bingung, akhirnya apa boleh buat makan di resto khas Thai yg penuh
juga, di resto ini lama bngat penyajiannya hamper 1 jam menunggu, sampai niat
mo cancel aja, karna kesal menunggu.
Makan malam yg mahal 370 Baht = IDR
175.000,- ini sih namanya bukan Backpackeran,
Alarm calculator gw bunyi terus, mahal, mahal,
mahal, mahal, ah Sudahlah yg penting bisa makan gak masuk angin, lanjut jalan
ke Bangla Walking Street,
"Ya Ampun"
ini adalah tempat huru hara, saran gw yang pertama dan
utama, jangan ke tempat ini kalo kalian bawa anak kecil, gak bagus buat
psikologisnya.
apalagi buat kalian yg liburan ke sini gak bawa bini, bahaya…
wakakakak.


Dari Bangla Walking street ini, jika ke
terus ke arah belakang mengikuti jalan nanti kita akan sampai di Patong Beach, buat
kalian yg ingin santai malam hari di pantai mungkin tempat ini bagus juga untuk
di kunjungi, gw sendiri esok pagi baru menikmati pantai ini, karna kondisi
fisik yg lelah dan ngantuk setelah tadi siang ngetrip ke phi phi island.
4 Oktober
Pagi hari sekali kami langsung check-out
dari hotel, seperti biasa untuk menghemat pengeluaran, ngerefil air mineral isi sampai penuh mumpung
gratis. Jalan kaki ke kota patong, kalo
perempuan biasa gak boleh ngelihat Mall, langsung belok.
Angkutan umum trayek Kota Phuket-Patong
Hari semakin siang kami gak banyak beli oleh2 di sini, karena memang relative mahal harganya, lalu berjalan menuju pantai, di dekat pantai inilah terdapat Bus dengan tujuan Phuket Air port, tempatnya persis di depan Pos Polisi.
Jika sebelumnya kami menggunakan mini bus
dari air port menuju Patong, kali ini kami menggunakan Bus to Air port.
Dari beberapa blog banyak yg menulis bahwa bus ini tidak menerima pembayaran
cash, jadi kita harus beli kartu terlebih dahulu sebelum menggunakan transportasi ini, namun
sblm gw berangkat ke sini gw coba cek di web resmi dari bus ini, ternyata
menerima pembayaran cash, sebelum naik gw bertanya terlebih dahulu untuk memastikan apakah bisa dengan cash atau tidak. Dan ternyata bisa by cash, 170 Baht.
perjalanan dari Pantai Patong ini lumayan indah, disebelah kiri terhampar luas lautan, sesekali bus menaiki bukit, lalu melewati kota Phuket, dan berakhir di Phuket Airport.
suasana bandara lumayan ramai, di dekat bandara ini sebenarnya ada tempat wisata juga berupa pantai, kebanyakan para turis berfoto/selfi ketika pesawat akan landing, dari arah lautan menuju landasan di bandara, bagus2 sih fotonya, tapi katanya hal itu sekarang dilarang oleh pemerintah thailand dan ada hukuman pidananya, karena membahayakan diri.
selain karena males, mungkin karena fisik yg sudah lelah, kami tidak mengunjungi pantai itu lebih memilih bersantai dan tidur sore di area dalam bandara, kebetulan nanti kami ada penerbangan malam menuju singapura, dan pastinya akan bergadang di Changi Airport Singapur, baru kembali melakukan penerbangan esok pagi menuju Soekarno Hatta Airport.
mendekati tengah malam kami tiba di Changi Airport, suasana sepi, lalu cari bangku kosong buat rebahan dan tidur tiduran, Jangan takut tidak aman dengan bandara ini, bandara ini terkenal aman, jadi gak bakal ada tindak kriminal di bandara ini.
dibeberapa sudut ada kursi relaxasi, pijit gratis tinggal pencet, atur stelannya sesuaikan dengan ukuran telapak kaki dan betis, saking asiknya sampai ketiduran.
5 Oktober
pagi pukul . 08.15 pesawat Jet Star Take of menuju CGK.
pukul. 09. 10 pesawat landing di CGK
cari makan pagi, beli nasi goreng di Solaria, lalu jalan kaki menuju terminal Damri buat naik BUS ke Cikarang, pesan Grab Car buat ke rumah Tambelang.
End Trip.
Terima Kasih Ya Allah, atas segala nikmat ini.
perjalanan ini banyak mengajarkan kami tentang arti kemanusiaan.
#Kamboja
#Thailand
#Backpacker
#Grand Palace
#Killing Field
#Touel Sleng
#Angkor Wat
#Wat Arun
#Wat Pho
#Phuket
#Phi phi Island