Senin, 29 Oktober 2018

Perjalanan Air Mata

Sumba-NTT, 21-25 Agustus 2018



Mengunjungimu
seperti berjumpa Tuhan
Kemiskinanmu mengajarkan-ku tuk bersyukur
Kebodohanmu mengajarkan-ku tuk berbagi ilmu
Keluguanmu mengajarkan-ku tuk tak menipu
Kecemasanmu mengajarkan-ku tuk bertindak
dan
keterbelakangan kalian mengajarkan-ku
tuk memanusiakan manusia

setelah sekian lama keinginan untuk menginjakan kaki di tanah NTT, akhirnya Agustus 2018 ini aku dapat mewujudkannya, rasa penasaranku begitu besar untuk lebih ingin mengetahui potret kehidupan masyarakat di salah satu provinsi miskin dan terbelakang di Indonesia ini secara langsung.

Berbeda dengan istriku yang pernah terjun langsung ke Kupang dan menyaksikan langsung tentang kepincangan pembangunan di sana dibandingkan dengan kita di Pulau Jawa, sementara aku hanya mengetahui  tentang ketimpangan Wilayah Indonesia Timur, dari chat group Whatsapp saja, cerita istri dan tulisan dari WA itu membuatku semakin menggebu untuk mengunjungi NTT.

Dimulai dengan problem “Kasta Hamba”, ada manusia yang mau dikubur hidup2 untuk menemani sang majikan yang mati,  Perbudakan Kain Tenun, anak sekolah yang harus berjalan 1 jam bahkan lebih  menuju sekolah, Perdagangan Manusia, standarisasi pendidikan nasional yang sangat tidak mungkin untuk diterapkan, infrastruktur yang sangat tidak mendukung, sampai dengan anak sekolah yang tidak pernah menulis bukan karena malas tapi karena memang tidak punya buku tulis, dan banyak cerita lain yang memilukan.

Dari Jakarta tidak ada penerbangan direct menuju Sumba, jadi harus transit di Bali, baru terbang lagi menuju Tambolaka Sumba Barat, mendarat di Bandara yang sangat sederhana ini sudah sangat terlihat jelas kepincangannya, aku lebih mengibaratkan Bandara ini seperti kantor Kecamatan, padahal bandara ini belum lama di pugar dan diperluas, bisa dibayangkan di waktu sebelumnya yang katanya pagar pembatasnya saja terbuat dari pagar bambu. Ketika turun dari pesawat ada touris asing yang sedang nge-Vlog, aku mendengarkan beberapa kali dia salah menyebut Tambolaka menjadi Tambokala,

Sudah beberapa kali saya koreksi, tetap saja dia salah menyebutnya..



Ada juga bule yang bingung ketika sinyal HPnya tidak ada, perlu diketahui bahwa di Sumba ini hanya sinyal Telkomsel saja yang mampu untuk diandalkan, sedangkan operator lain sepertinya tidak layak untuk dipakai di daerah ini.

Transfortasi umum sangat sulit untuk di dapatkan di daerah ini, alternative lain adalah Charter mobil, apalagi perjalanan kami ini adalah perjalanan panjang, dari Sumba Barat menuju Sumba Barat Daya lalu menuju Sumba Timur, lalu dari Bandara Umbu Mehang Kunda – Waingapu-Sumba Timur inilah terbang kembali Ke  Ngurah Rai Bali lanjut ke Jakarta.


Potensi wisata di Pulau Sumba NTT ini sebenarnya cukup bagus, ada begitu banyak tempat wisata dimulai dari wisata budaya/wisata adat, dan wisata alam, permasalahannya adalah infrastruktur jalan menuju lokasi yang kurang memadai, dan sulit untuk di jangkau dengan kendaraan umum, jika dikelola secara benar dan sarana2 pendukung lainnya yang memadai bukan tidak mungkin Sumba ini akan seperti Bali, sehingga sektor  wisata ini dapat meningkatkan pendapatan daerah dan mungkin akan membawa kesejahteraan masyarakat NTT, lalu dapat menyelesaikan permasalahan kemiskinan yang menimpa.

Wisata Pantai Kawona, Pantai Kita, Danau Wekuri, Pantai Mandorak, Pantai Mbawana, Rumah adat Ranteggaro, Air Terjun Lampopu, Kampung Adat Praijing, Air Terjun Tanggedu, Bukit Warinding, dan pantai Walakiri, adalah beberapa tempat yang menurut saya cukup bagus, dan layak untuk di jual kepada wisatawan.



Patut diakui dengan SDM rendah, sulit rasanya untuk menggapai sebuah cita2 yang tinggi, sepertinya pembangunan SDM sangat diperlukan untuk mempersiapkan manusia-manusianya sehingga mampu mengelola dan mengembangkan sector wisata menjadi sector andalan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat.

Ada permasalahan menarik yang saya temui  sendiri di lapangan, ketika berkunjung ke Rumah Adat Praijing, dimana ada beberapa rumah adat sedang dibangun, dimana tiang penyangga atap tidak lagi terbuat dari kayu/pohon, melainkan dari kontruksi coran semen dan baja, sehingga keeksotisan rumah adat tersebut menjadi hilang, setelah mencari tahu, ternyata jika menggunakan kayu pohon, biayanya sangat besar, dimulai dari upacara adat penebangan kayu, pemrosesan sampai tahap penggunaan pada bangunan, bisa ratusan juta biaya yang harus dikeluarkan.  Di sisi lain jika rumah adat yang menjadi potensi wisata dibuat dengan teknologi modern akan menghilangkan nilai keasliannya, tapi dengan biaya sebesar itu cukup sulit rasanya untuk di penuhi oleh pemilik rumah.


Permasalahan di atas sama saja dengan permasalahan yang dihadapi oleh Tuan Jerry sang supir kami, sampai saat ini sudah memiliki 2 orang anak, rumah tangganya tidak diakui secara adat, karena dia belum mampu memenuhi syarat perkawinan secara adat yakni 100 ekor kerbau, karena memang kebetulan sang istri masih merupakan keturunan raja, jadi syarat pernikahannya sangat mewah.


Di sudut lain di sekitar air terjun Tanggedu, ada sedikit obrolan dengan penduduk local yang berjualan kelapa muda sambil terima antar jemput  ojek, beliau mengungkapkan kegembiraanya karena sudah sekian lama hampir seumur hidupnya baru mulai ada pembangunan jalan menuju desanya, sudah mulai banyak perubahan ungkapnya, kalau dahulu mereka membeli bensin eceran Rp. 20.000,- per liter sekarang Rp.10.000,- per liternya, ada sedikit pembangunan infrastruktur, dahulu  untuk menjual hasil panen mereka harus berjalan kaki 12 jam, pergi di pagi hari dan sampai pasar di sore hari, lalu mereka menginap di pasar esok pagi baru melakukan transaksi jual beli.




Saya sendiri untuk menuju lokasi ini, harus menggunakan ojek dengan tarif yang lumayan mahal, yakni sebesar Rp. 150.000,- karena akses kendaraan roda empat masih dalam proses pengerjaan.


Jika berbicara pendidikan, seperti langit dan bumi jika dibandingkan dengan Pulau Jawa mungkin, karena cukup sedih melihatnya, belum lagi jika berbicara subsidi, ketika kita masyarakat P.Jawa ramai2 memprotes kebijakan pencabutan Subsidi, di tempat lain ada masyarakat yang sama sekali tidak menikmati subsidi baik listrik ataupun BBM sudah puluhan tahun.

Sepertinya Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, masih terus menjadi PR besar untuk para pemimpin negeri ini.

Semoga kepincangan ini tidak berkelanjutan…
Aamiin















Lewati Savana dan mendaki bukit untuk pergi ke Sekolah.
Anak2 Hebat....!





#SALAMLITERASI
#BERGERAK
#BERBAGIRASAMERDEKA